Siapa ...
Siapa yang dapat menolong?
Saat kau tak bisa minta pertolongan
Saat pertolongan menjadi tidak mungkin
Saat manusia-manusia hanya bisa mendengar
Saat teman dan sahabatmu tak kuasa
Saat saudara dan sekutumu tak juga datang

Kepada siapa kau mengadu?
Saat cerita hidupmu terlalu kelam
Penderitaanmu tak mungkin dimengerti
Bahasa ucapmu terlalu lirih tak terdengar
Atau cintamu pada kefanaan terlalu dalam

Ketika semua; saya, kamu dan kalian sama saja
menderita dan sakit tak berdaya

Hanya padamu
Hanya namamu
Duh, Gusti Pengeran

Kau yang tak pernah lelah mendengar keluh kesah
Kau yang tak pernah menolak permohonan
Kau yang tak keberatan dimintai tolong
Kau tempat segala harapan tertambat

Duhai, Gusti
Aku hambamu yang lemah
Sendiri dalam ladang derita
Temanku dekat tapi tak ada
Ayah ibuku menemani tapi tak pernah berarti
Tangan-tangan ahli di samping badan tapi semuanya tak menyurutkan duka

Dengan sisa-sisa pengharapan, lara ini kucoba buang
Sendirian
DenganMu saja

Hari ini mimi mu nekat minta balik ke rumah kita. Sebenarnya nenekmu melarangnya. Tapi pagi-pagi benar, mimi mu merajuk. Akhirnya saya turuti.

Sesampainya di rumah kita, mimi mu menangis luar biasa melihatmu kembali dari masa lalu dan hadir dalam benda-benda kesayanganmu: bajumu, jaketmu, sepatumu, mainanmu, dan setiap sudut rumah di mana kau bermain dengan riang.
Aku ingatkan ibumu untuk jangan telalu dalam. Tapi dia menjawab dengan mantap bahwa tangisnya itu bukan ratap, hanya kangen. Begitu katanya.
Mendengar jawaban itu, saya pun tak kuat menahan tangis. Ada campuran aneh antara sedih sekaligus bangga punya istri hebat dan anak cerdas.
Saya lihat, sambil menangis, semua barang-barangmu dia bereskan. Dia masukkan dalam tas besar. Rencananya barang-barang itu mau disimpan di rumah nenekmu. Biar kami tak lagi terus bersedih saat melihat semua tentangmu.
Kami memang sudah tak butuh fetish semacam benda itu karena kamu sudah ada di dalam dada kami. Saat kangen, kami hanya akan panggil namamu dan kau akan hadir bersama kami. Tertawa, menangis, dan melet bersama.
Meskipun kami tahu seperti yang ada di foto, kau suka usil dengan tidak mau begitu saja menuruti setiap perintah. Saya jadi ingat mimi mu, kamu pemberontak. Seperti mama mu kamu usil dan gelo. Kamu benar-benar sudah menjadi kami.
Kita sudah menjadi satu. Jadi ini semua hanya masalah waktu, nak. Kau telah lepas dari jeratnya sementara kami masih terkungkung di dalamnya. Kamu telah bersama penciptaMu dan kami belum. Hanya masalah waktu.
Saya senang telah dipilih menjadi Mama mu, nak. Saya tahu mimi mu juga amat senang melahirkan, merawat, dan membesarkanmu.
Ingat nak, setiap namamu kami panggil, bilanglah selalu: tak usah menangis lagi.


Dalam sebuah karya ilmiah lazim dituliskan sumber diperolehnya suatu data. Sitasi adalah cara penulis memberitahukan kepada pembaca bahwa bagian-bagian tertentu dalam karyanya (makalah, skripsi, tesis, atau disertasi) berasal dari sumber yang telah ditulis orang lain. Sitasi bertujuan untuk menjunjung kejujuran akademik juga menghindari plagiarsime.

Kate L. Turabian (2010) sendiri menjelaskan bahwa sedikitnya ada empat hal mengenai pentingnya melakukan sitasi atau mencantumkan referensi yang diacu dalam karya penelitian.
  1. Memberikan apresiasi (kredit) kepada penulis yang karyanya disitasi.
  2. Meyakinkan pembaca mengenai keakuratan data atau informasi yang diperoleh sekaligus untuk mendapatkan kepercayaan pembaca.
  3. Menunjukkan kepada pembaca tentang tradisi penelitian yang mendukung atau mempengaruhi karya.
  4. Membantu pembaca untuk mengikuti atau mengembangkan penelitian tersebut. Sitasi dan referensi tentu akan membantu mengarahkan pembaca untuk menemukan artikel atau tulisan yang dirujuk dengan mudah dan cepat untuk keperluan penelitian mereka sendiri.

Seorang penulis harus memberikan sitasi pada karya ilmiahnya pada saat dalam laporannya dia (1) mengambil kutipan langsung dari sebuah sumber; (2) membahasakan sendiri (memparafrasakan) ide atau tulisan dari sebuah sumber tertentu; atau (3) menggunakan ide/gagasan, data, atau metode yang didapat dari sumber-sumber tertentu pada saat melakukan penelitian.

Terdapat dua jenis gaya sitasi yang berlaku di dunia akademik, yaitu The Notes-Bibliography Style dan The Author-Date Style. Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) memakai The Notes-Bibliography Style dalam setiap karya ilmiah yang dibuat civitas akademiknya. Sitasi jenis ini biasa disebut juga dengan gaya Chicago (Chicago Style Citations) atau gaya Turabian (Turabian Style Citations).

Di bawah ini adalah contoh penulisan catatan kaki (CK) dan daftar pustaka (DP) yang berlaku di kampus ISIF:

A. Buku

Buku yang ditulis oleh satu sampai tiga orang, nama semua penulis ditulis lengkap:

CK:      Husein Muhammad, Fiqh Perempuan; Refleksi Kyai atas Wacana Agama dan Gender, Cet. I, (Yogyakarta: LKiS, 2001), hlm. 73. 
DP:      Muhammad, Husein, Fiqh Perempuan; Refleksi Kyai atas Wacana Agama dan Gender, Cet. I, Yogyakarta: LKiS, 2001.

CK:      Marzuki Wahid dan Rumadi, Fiqh Madzhab Negara: Kritik atas Politik Hukum Islam di Indonesia, (Yogyakarta: LKiS, 2001), hlm. 167.
DP:      Wahid, Marzuki dan Rumadi, Fiqh Madzhab Negara: Kritik atas Politik Hukum Islam di Indonesia, Yogyakarta: LKiS, 2001.

Buku yang ditulis oleh lebih dari tiga orang, hanya dituliskan nama penulis pertama ditambah kata dkk. (dan kawan-kawan).

CK:      Faqihuddin Abdul Kodir dkk., Fiqh Anti Trafiking; Jawaban atas Berbagai Kasus kejahatan perdagangan Manusia dalam Persepktif Hukum Islam, Cet. I, (Cirebon: Fahmina institute, 2006), hlm. 73.
DP:      Kodir, Faqihuddin Abdul dkk., Fiqh Anti Trafiking; Jawaban atas Berbagai Kasus kejahatan perdagangan Manusia dalam Persepktif Hukum Islam, Cet. I, Cirebon: Fahmina institute, 2006.

B. Buku Terjemahan

CK: Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al-Quran, Kritik terhadap Ulumul Quran, Terjemahan Khoiron Nahdliyyin, (Yogyakarta: LKiS, 2002), hlm. 1.
DP: Zaid, Nasr Hamid Abu, Tekstualitas Al-Quran, Kritik terhadap Ulumul Quran, Terjemahan Khoiron Nahdliyyin, Yogyakarta: LKiS, 2002.

C. Artikel dalam Buku

CK: Lies Marcoes-Natsir, “Bekerja dan Beramal di Aisyiyah”, dalam Mayling Oey dan Gardiner (eds.), Perempuan Indonesia Kini dan Esok, (Jakarta: Gramedia, 1994), hlm. 173-181.
DP: Natsir, Lies Marcoes-, “Bekerja dan Beramal di Aisyiyah”, dalam Mayling Oey dan Gardiner (eds.), Perempuan Indonesia Kini dan Esok, Jakarta: Gramedia, 1994.

D. Artikel dalam Ensiklopedia

CK: D.S. Adam, “Theology”, Encyclopedia of Religion and Ethics, Vol. 12, ed. James Hastings, et. al., (New York: Charles Scribner’s Sons, t.t.), hlm. 220.
DP: D.S, Adam, “Theology”, Encyclopedia of Religion and Ethics, Vol. 12, ed. James Hastings, et. al., New York: Charles Scribner’s Sons, t.t.

E. Artikel dalam Jurnal/Majalah

CK: Mahrus eL-Mawa, “Studi Kritik Nabi SAW, Metodologi Penelitian Hadits”, Fikih Rakyat, Vol. I, No. 3, Maret 2003, hlm. 135.
DP: Mawa, Mahrus eL-, “Studi Kritik Nabi SAW, Metodologi Penelitian Hadits”, Fikih Rakyat, Vol. I, No. 3, Maret 2003.

F. Artikel dalam Media Massa

CK: Nur Rofiah, “NU Menyikapi Trafficking”, Kompas, 4 September 2006, hlm 4.
DP : Nur Rofiah, “NU Menyikapi Trafficking”, Kompas, 4 September 2006.

G. Makalah Seminar dan Lain-lain

CK: Nasaruddin Umar, Menuju Fikih Perempuan Indonesia yang Humanis, makalah disampaikan dalam seminar sehari tentang Perempuan dalam Syariat Islam yang diadakan oleh Rahima, Jakarta, 13 Juni 2001.
Husein Muhammad, Telaah Kritis terhadap Fakta Aborsi dalam Perspektif Fiqh Kontemporer, 2003, makalah tidak diterbitkan.

DP: Umar, Nasaruddin, Menuju Fikih Perempuan Indonesia yang Humanis, makalah disampaikan dalam seminar sehari tentang Perempuan dalam Syariat Islam yang diadakan oleh Rahima, Jakarta, 13 Juni 2001.
Husein Muhammad, Telaah Kritis terhadap Fakta Aborsi dalam Perspektif Fiqh Kontemporer, 2003, makalah tidak diterbitkan.

H. Skripsi, Tesis, dan Disertasi
CK:      Mansur, Teologi Pembebasan Kristen dan Islam; Studi Komparasi Pemikiran Gustavo Gutierrez dan Asghar Ali Engineer, Skripsi tidak diterbitkan, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2004, hlm. 123.
DP: Mansur, Teologi Pembebasan Kristen dan Islam; Studi Komparasi Pemikiran Gustavo Gutierrez dan Asghar Ali Engineer, Skripsi tidak diterbitkan, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2004.

I. Kitab Suci
QS. al-Baqarah (2): 201
Perjanjian Baru, Yoh. 0: 31

J. Sumber Internet
CK:      Nama pengarang, judul tulisan, judul publikasi, xx-xxx-xx, sumber internet, (contoh: dari http://www.fahmina.or.id/xxxx.html#1) diambil tanggal, bulan, tahun.
Nama Pengarang, judul tulisan, sumber internet (contoh: dari http://www.fahmina.or.id/xxxx.html#1) diambil tanggal, bulan, tahun.

DP:      Nama pengarang, judul tulisan, judul publikasi, xx-xxx-xx, sumber internet, (contoh: dari http://www.fahmina.or.id/xxxx.html#1).
Nama Pengarang, judul tulisan, sumber internet (contoh: dari http://www.fahmina.or.id/xxxx.html#1).

K. Dokumen Resmi Pemerintah
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004, tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Apabila mengutip ulang referensi yang sama secara berurut, maka pada catatan kaki (CK) cukup tulis: Ibid. Jika berbeda halamannya, cukup tambahkan nomor halamannya: Ibid., hlm. 14. Apabila referensi terkutip ulang berselang oleh satu atau lebih referensi berbeda, maka cukup tulis nama awal penulis (apabila orang Indonesia dan Asia) atau nama akhir penulis (apabila orang Amerika, Eropa, dan Australia) berikut satu atau dua kata awal judul dari referensi dimaksud. Misalnya, Husein, Fiqh Perempuan ….., hlm. 3.




Sumber:
Panduan Skripsi ISIF tahun 2015.
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Tesis, dan Disertasi FEB UGM tahun 2016.
Kate L. Turabian, A Manual for Writers: of Research Papers, Theses, and Dissertations. Chicago: The University of Chicago Press (1999).

Entahlah kodrat atau bukan, manusia sejak zaman kuno merasa bahwa kehidupannya selalu dihantui dengan kecemasan, ketidakpastian, dan tentu saja kematian. Inilah yang menjadi pijakan para penelaah peradaban kuno untuk membaca kemunculan tuhan dan hal gaib lainnya dalam kehidupan manusia. Dalam pembacaan para peneliti itu, manusia kuno percaya bahwa di luar sana ada sesuatu yang mengatasi semua kelemahan. Ada realitas yang mengatasi semua keterbatasan manusiawi. Itulah para dewa, tuhan, sesuatu yang adikodrati. Mereka juga percaya bahwa manusia juga bisa menjadi seperti seperti dewa dengan melakukan metode hidup yang benar.

Mereka percaya dengan terlibat dalam kehidupan yang suci, dengan meniru cara-cara dewa, manusia biasa bisa menjadi manusia sejati. Dewa selalu diidentikkan bersemayam di langit, tapi untuk mewujudkan kekuatan mereka di dunia, manusia mereplikasi para dewa ke dalam alam nyata dalam bentuk kuil, festival, perayaan dan ritual harian. Dengan begitu, dunia manusia adalah replika dunia para dewa, dan ke arah itulah manusia menuju, ke ideal-ideal yang ada dalam alam kedewataan. Persepsi inilah yang membentuk mitologi dalam peradaban-peradaban kuno.

Di Iran kuno kita mengenal ada istilah dunia jasadi (getik) yang merupakan dunia arketipal yang suci (menok). Orang-orang Babylonia membangun kuil-kuil yang indah sebagai replikasi Yang Suci. Keikutsertaan rakyat dalam ritual dan ketaatan pada pempimpin menjadi syarat agar ketentraman terwujud dan keseimbangan relasi manusia-dewa tetap terjaga. Di Hindu dikenal dunia dewa dan dunia manusia. Tidak ada perbedaan antara alam dewa dan manusia. Kedunya berhubungan erat bahkan seringkali dewa muncul dalam bentuk avatar (epifani). 

Di dalam ajaran tasawuf Islam dikenal alam amtsal dan alam malakut. Keduanya juga berhubungan erat. Di Indonesia yang banyak terpengaruh mitologi India dikenal istilah dunia kahyangan dan dunia manusia. Semuanya itu sering dirumuskan secara sederhana oleh para penelaah dengan istilah mikrokosmos untuk menyebut dunia manusia dan makrokosmos untuk menyebut dunia yang lebih tinggi dari dunia manusia.  

Kapan tepatnya kepercayaan ini mulai muncul. Tak ada yang tahu pasti tapi kita bisa menyebutkan bahwa kepercayaan kuno ini muncul berbarengan dengan berakhirnya periode berburu. Pada saat manusia mulai mengembangkan pertanian, manusia menciptakan ideologi yang sama sekali baru: dewa-dewa. Rudolf Otto dalam The Idea of the Holy (1917) percaya bahwa rasa tentang yang gaib adalah dasar dari agama. 

Pada periode Paleolitik [Zaman Batu Tua (50.000 SM)], ketika pertanian mulai berkembang, kultus pertama yang muncul adalah tentang Dewi Ibu. Sosok ini muncul sebagai ungkapan perasaan tentang kesuburan. Di Eropa, Timur Tengah dan India, arkeolog menemukan penggambaran Dewi Bumi berupa pahatan patung seorang perempuan hamil telanjang.
Dewi Ibu ini ada di hampir semua peradaban, di antaranya dia disebut Inana di Sumeria Kuno, Isytar di Balilonia, Anat di Kanaan, Isis di Mesir, dan Aphrodite di Yunani. 

Sebuah kuil kecil persembahan untuk Dewi Sri dibangun di tengah sawah, Karangtengah, Jawa Tengah. Koleksi Tropen Museum.

Di Nusantara, kita masih menemukan jejak Dewi Ibu dari sosok Dewi Sri, yang disebut juga sebagai dewi kesuburan. Mungkin ada pengaruh mitologi India dalam kepercayaan ini tapi yang pasti Dewi Sri sudah dimuliakan sejak zaman kerajaan kuno di Jawa.

Dalam Wawacan Sulanjana, diceritakan bahwa Dewi Sri atau Sri Pohaci berparas cantik. Kecantikan bahkan mengalahkan semua bidadari dan para dewi kahyangan. Begitu cantiknya, hingga Batara Guru yang tak lain adalah ayah angkatnya, diam-diam berniat mempersuntingnya. Hal itulah yang membuat para dewa ketakutan. 

Mereka cemas jika Batara Guru benar-benar menikahi putri angkatnya sendiri, keselarasan kahyangan akan hancur. Maka para dewa pun mengatur siasat untuk memisahkan Batara Guru dan Nyi Pohaci Sanghyang Sri. Sudah diputuskan, mereka harus membunuh Sri Pohaci.

Para dewa meracuni Sri Pohaci dan akhirnya dia pun meninggal. Tapi setelahnya para dewa baru sadar, mereka melakukan kesalahan besar. Adalah sebuah dosa besar membunuh gadis tak berdosa. Begitu paniknya, para dewa sepakat untuk menguburkan jenazah Sri Pohaci di tempat yang jauh dan tersembunyi. Di mana lagi kalau bukan di bumi. Anehnya, dari kuburan Sri Pohaci itu tumbuhlah aneka tanaman seperti kelapa, rampah-rempah, dan umbi-umbian. Dari pusarnya, tumbuh tanaman padi yang menjadi makanan pokok orang-orang di Jawa.

Mungkin kita akan mengatakan cerita tentang Dewi Sri ini adalah mitos yang tidak berguna apa-apa bagi kehidupan modern. Tapi mitos ini memberitahukan kepada kita bahwa ada hubungan antara dunia manusia dan dunia yang lebih tinggi, yang tak terjangkau akal manusia. Padi yang kita makan juga bukan berasal dari manusia tapi adalah anugerah dari Yang Lebih Tinggi. Karena anugerah maka menjadi seperti kewajiban untuk menjaganya. 

Di Jawa, orang-orang menggelar ritual Mapag Sri dan Sedekah Bumi yang secara simbolik merupakan upaya manusia untuk menjaga keselarasan dengan Yang Tinggi. Di Sunda Wiwitan dikenal ritual Seren Taun. Kearifan budaya tersebut menjaga manusia agar tetap bersahaja terhadap alam dan tidak rakus.

Tapi sejak peradaban modern pelan-pelan merembes ke alam pikiran manusia Indonesia, kearifan tersebut pelan-pelan musnah. Bertani tak lebih dari upaya untuk bertahan hidup dan kalau bisa dari pertanian orang-orang yang punya kuasa bisa memperkaya diri. Surplus agrikultural dinikmati segelintir orang dan ketamakan semakin merajalela. Semua berawal dari pemberangusan institusi-institusi budaya yang merawat hubungan antara manusia dengan Yang Lebih Tinggi. Mitos sebagai media simbolik untuk menjelaskan hubungan kedunya dikata-katai sebagai ‘sebuah kibulan’ yang tak masuk akal.

Pelan tapi pasti, hubungan keduanya diceraikan oleh pradigma modern dengan menciptakan jurang tajam antara yang sakral dan yang profan. Dalam konsepsi Barat-kolonial, antara yang sakral dan profan tidak ada hubungan sama sekali. Kedunya tak boleh dicampur aduk dalam satu wadah. Kalau tercampur, pasti dunia akan kacau, seperti bayangan mereka tentang Perang Eropa. 

Tapi bukankah Nusantara berbeda dengan Eropa? Apa boleh buat, penjajahan mengenalkan ideologi ketakutan ala Barat itu pada kita. Kini kita mulai memercayai benar kata mereka bahwa nasib manusia berada di tangan manusia sendiri, lepas dari campur tangan Yang Gaib. Diam-diam ada sepercik harapan yang begitu naif berkembang di alam bawah sadar kita: di alam kemerdekaan, manusia (tanpa bantuan dewa) bisa melakukan apa saja.

Ritual Mapag Sri dan Seren Taun masih lestari hingga sekarang, tapi nilai-nilai telah punah lebih dulu. Ritual-ritual tersebut kosong tanpa makna dan menjadi sekadar tontonan yang menjemukan. Lakon-lakon wayang yang mendedahkan mitos-mitos pun tak pernah menjadi penghayatan mendalam, bahkan seringkali diludahi sebagai sampah dan penyebab bid’ah. Modernitas, baik yang muncul dalam alam birokrasi maupun agama impor berhasil menekan kearifan-kearifan lokal. Sekalipun masih ada ritual-ritual di pelosok desa, itu hanya kulit tanpa daging. Penghayatan manusianya sudah tak ada. Habis semuanya.

Kalau sudah begini, ke mana Dewi Sri yang dari dulu bersemayam di dalam tanah kita? Jawabannya bisa ditemukan dalam sebuah lagu campursari yang terkenal. Didi Kempot mengatakan: (Dewi) Sri Minggat. []



"Rasa sakit akan mendewasakanmu," kata Ki Mantri kepada Pak Kuwu yang mengeluh istrinya terjangkiti penyakit aneh.

Penyakit itu tak mudah dikenali. Karena memang tak ada namanya atau belum ada yang mampu memberikannya nama. Tiap sore hari menjelang Maghrib, istrinya kejang-kejang. Disusul kemudian dia merintih kesakitan seperti orang terbakar. Sakit akan mereda hingga malam. Nanti menjelang fajar sakit itu datang kembali. Sudah setahun kiranya istri Pak Kuwu menderita keganjilan tersebut.

Nasihat Ki Mantri tak memuaskan hatinya. Sama saja seperti penjelasan medis berpuluh klinik, puskesmas, rumah sakit dan tabib-tabib. Hanya geleng-geleng kepala yang selama ini Kuwu dapat. Bukan penjelasan logis. Semua nasihat dari banyak teman dan saudaranya juga tak membuat hatinya lapang. Toh istrinya tetap sakit setiap pergantian siang dan malam.

"Sehari dua hari masih kuat. Tapi ini sudah berbilang hari, sudah banyak minggu dan tak terhitung bulan. Saya tidak kuat menyaksikan istri seperti orang sekarat. Lebih baik saya saja yang sakit," keluhnya di depan Ki Mantri.

"Bukankah rasa sakit juga yang membuat dunia ini diselimuti dendam kesumat, Ki? Jadi tak benar kalau sakit itu mendewasakan, Ki. Pekara salah," sanggah Kuwu.

Rasa sakit yang tak sembuh bahkan diwariskan berpuluh generasi setelahnya. Rasa sakit itu yang menumpulkan kesadaran dan membangkitkan amarah sedemikian cepat. Rasa sakit pula yang membuat banyak bangsa di dunia terpuruk dan tak mampu bangkit. Pada akhirnya orang-orang si negara itu ketakutan, bodoh dan termiskinkan. Mulut pak Kuwu tak berhenti memberondong dengan cerita-cerita perang dan pembunuhan. Semua kekejian di dunia, katanya, berawal dari rasa sakit, kemudian berlanjut dengan pembalasan. Pembalasan menimbulkan rasa sakit baru dan pembalasan baru. Begitu seterusnya bertahun-tahun lamanya. Pak Kuwu yang doyan membaca koran dan tiap hari melototi berita di televisi tentu mengetahui kisah-kisah perang karena dan yang menyebabkan rasa sakit itu.

"Tapi kau punya iman, Pak Kuwu. Bukankah kau orang beragama?"

"Setiap musibah dan cobaan adalah rasa sakit. Dan tak ada rasa sakit yang percuma. Itu tandanya Allah masih sayang sama pak Kuwu dan keluarga. Percayalah ada hikmahnya," kata Ki Mantri memotong cerita pak Kuwu yang menderas bandang.

Tapi jawaban itu, lagi-lagi tak cukup memuaskan. Pak Kuwu tak juga menerima penjelasan Ki Mantri. Menurutnya, Ki Mantri terlalu menggampangkan masalah. Kuwu lalu mendesaknya dengan berbagai pertanyaan tajam. Seperti pertanyaan iblis saat dia diperintah Allah bersujud kepada Adam. Adakah protes itu masuk akal bagi seorang makhluk terhadap Khalik?

Tapi keterjelasan dan rasionalitas bagi iblis adalah hal yang menurutnya pantas diterima. Sekalipun menyangkut hal yang ilahiah. Andaipun di hadapan Allah yang melebihi rasionalitas itu sendiri.

"Kenapa Kau suruh aku sujud di depan makhluk hina dina. Manusia yang terbuat dari tanah?"

Sebuah pertanyaan yang logis, cerdas dan bringas. Tapi tidak berada pada tempat yang benar. Protes ini mungkin benar tapi tidak tepat jika dialamatkan kepada Sang Pencipta. Itu tadi, Dia sejatinya di luar ‘kuasa-mengetahui’ iblis. pertanyaan dan protesnya tak memadai di hadapan-Nya.

Pak Kuwu terus bertanya, menyanggah dan kemudian bertanya kembali. Seperti orang yang kehausan tapi kemudian minum air laut yang asin.

"Pak Kuwu lupa, manusia, atau bahkan makhluk yang lebih canggih seperti iblis sekalipun masih suka terjebak dalam 'kemengertian'. Sementara Allah bekerja melebihi itu. Dia di luar dimensi 'kemengertian'," Ki Mantri berusaha menjelaskan dengan mengikuti logika cerita pak Kuwu.

Kepasrahan, oleh karenanya menjadi jalan terbaik bagi makhluk untuk bisa mengerti jalan-jalan yang sedang direnda Khalik. Kepasrahan bukanlah tak berbuat apa-apa.

"Tapi melakukan segala upaya sambil menyadari bahwa yang dilakukannya adalah bagian kecil saja dari keagungan Tuhan dan keluasan rahasianya. Maka, di dunia manusia dikenal istilah ‘keajaiban’, ada juga ‘mukjizat’, ‘karomah’, ‘berkah’ dan sebagainya. Yang lain menyebut ada ‘mimpi’, ‘cita-cita’ dan ‘harapan’. Semua yang saya sebutkan tadi itu tidak masuk akal tapi manusia hidup dengan itu. Tanpa iman yang teguh, semua itu tak akan pernah terwujud," pungkasnya.

Sore itu, pak Kuwu sepertinya sedikit memahami. Lamat-lamat otaknya mengerti ucapan Ki Mantri yang dikenalnya sebagai kiai kampung itu. Dia pun beranjak pamit dan menyampaikan terima kasih.

"Baik. Akan saya coba," katanya begitu lirih, persis berbisik.

"Tapi besok saya ke sini lagi, Ki," katanya tegas.

"Mangga," timpal Ki Mantri.



bersambung...