Skip to main content

Posts

Empat Pendekar Mekah Sebelum Nabi

SAAT Mekah mulai berubah dari kota semi-Badui menjadi kota dengan peradaban yang lebih maju, suku-suku kecil di sekitar mulai berurbanisasi ke Mekah. Mekah menjadi tujuan banyak orang. Mekah semakin ramai dan perdagangan ke daerah Syiria dan Yaman pun semakin menguntungkan. Orang-orang kaya mulai membangun rumah mereka dengan bentuk persegi, hal yang sebelumnya dilarang karena takut akan menyerupai Ka’bah. Pelan-pelan, norma dan nilai masyarakat telah bergeser.
Masyarakat Mekah benar-benar menikmati status barunya sebagai kota terbesar di Arabia. Hal itu tak lepas dari modal agama dan ekonominya. Status inilah yang membuatnya tetap mandiri dan merdeka dari kekuasaan Bizantium dan Persia saat kota-kota lain seperti Sanaa’ di Yaman takluk.
Semakin cepat perubahan situasi di Mekah mengatrol perubahan tingkah polah masyarakatnya. Kemakmuran membuat mereka suka mabuk dan berjudi. Pesta-pesta di dekat Ka’bah dengan mengundang seorang penyair sudah menjadi kebiasaan. Tapi yang paling mengkhawa…
Recent posts

Setaman: Hikayat Para Penyiram Bunga

MEMBACAI kembali tulisan teman-teman fasilitator Sekolah Cinta Perdamaian (Setaman) membuatku merasa bahwa menyebarluaskan semangat toleransi itu tidak mudah. Pekerjaan ini sangat susah bahkan mungkin sedikit gila.
Betapa tidak, mereka harus berjibaku, telaten, mengenalkan dengan sabar dan tentu saja mengalami banyak penolakan. Minimalnya mereka ‘mencicipi’ menjadi korban stigma. Tapi pekerjaan itu tetap mereka lakukan. Ini hebat.
Setaman digelar di lima daerah, Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan. Di lima daerah tersebut, fasilitator-fasilitator Setaman yang kebanyakan anak-anak muda menularkan gagasan, semangat dan nilai toleransi di tengah bangsa yang beragam.
Mereka melampaui cara mengampanyekan toleransi dan pluralisme melalui paparan teoritis. Mereka mencoba mendobrak dengan melakukan pembumian nilai-nilai itu kepada anak-anak muda.
Mereka melatih diri terlebih dulu sebagai fasilitator untuk kemudian menjadi fasilitator untuk anak-anak muda lain di li…

Memberantas Korupsi di Daerah

PERTENGAHAN Maret 2017 kemarin, publik dihebohkan dengan turunnya penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ke Kota Cirebon. Mereka memeriksa beberapa orang pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Cirebon terkait penjualan tanah di Jalan Cipto. 
Meskipun kasus ini masih terlalu dini untuk disimpulkan tapi ini cukup membuat masyarakat terperanjat. Apalagi mengingat Cirebon mempunyai catatan yang tak terlalu baik ihwal tindak pidana korupsi.
Ingatan publik tentu tak akan pernah lupa dengan tragedi korupsi yang pernah menjerat sekitar 30-an anggota DPRD Kota Cirebon periode 1999-2004. Kasus korupsi ini menjadi korupsi paling besar dalam sejarah pemerintahan Cirebon. Korupsi ini dilakukan secara berjamaah dan tentu saja mencoreng muka ‘kota wali’ ini.
Tidak cukup sampai di situ, pada 2010 Transparency International Indonesia (TII) merilis Indeks Persepsi Korupsi Indonesia (IPK-Indonesia). TII membidik pelaku bisnis di 50 kota dengan total 9.237 responden. Dan Kota Cirebon berada di posisi t…

Perempuan Bukan Manusia Kedua

ADA yang menarik saat Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi menerima penghargaan dalam acara yang digelar Badan Perempuan PBB dan Forum Kemitraan Global di Markas Besar PBB, Manhattan, New York, AS, Rabu 20 September 2017 lalu. Dalam sambutannya, Retno mengatakan bahwa sebagai perempuan dia dikaruniai naluri keibuan. 

Dengan naluri itu, dia menjalankan tugas-tugasnya. Menteri Luar Negeri RI perempuan pertama itu yakin, semakin banyak naluri positif itu digunakan, dunia akan semakin damai.
Menurut saya, pernyataan Ibu Retno ini secara tersirat menghadirkan kembali sebuah narasi perlawanan femininitas terhadap hegemoni maskulinitas. Bahwa sifat keperempuanan itu tak selamanya lemah dan berada di bawah sifat kelaki-lakian. Bisa jadi, justru sifat keperempuanan itulah yang akan mengubah dunia menjadi lebih baik. 
Jauh sebelum zaman ini, perempuan memang dipercaya sebagai aktor penting yang membuat kehidupan menjadi makmur. Dalam mitologi di Jawa dan Bali ada kepercayaan tentang Dewi Sri,…

Kejahatan Orang Baik

SEPINTAS, kebaikan dan kejahatan amat mudah dibedakan seperti memilah antara hitam dan putih. Begitupun saat selintas membedakan antara cinta dan benci. Tapi dunia tak hanya menghadirkan realitas secara dikotomis bukan? Realitas ternyata lebih tidak bisa dimengerti pikiran. Daya pikir yang serba biner, hitam putih, tak lain hasil dari kerja otak untuk mengkategorisasi dan membeda-bedakan satu dengan lain hal.
Nyatanya tak ada yang melulu baik atau jahat, yang begitu murni cinta dan bencinya. Semuanya saling bercampur, berkait bahkan kadang beralih tempat. Yang jahat adalah baik dan yang baik adalah kejahatan itu sendiri. Ada cinta yang begitu besar hingga mewujud dalam tindak kebencian dan ada kebencian yang sangat hingga nampak sebagai kasih.  
Hidup dan kematian Socrates (470-399 SM) barangkali akan mengilhami kita tentang bertapa absurdnya kebaikan dan kejahatan. Ia adalah seorang filsuf Athena, Yunani yang mendobrak sistem dan tata nilai serta pengetahuan orang-orang Yunani waktu i…