Skip to main content

Posts

Istri Pak Kuwu Sakit

"Rasa sakit akan mendewasakanmu," kata Ki Mantri kepada Pak Kuwu yang mengeluh istrinya terjangkiti penyakit aneh.
Penyakit itu tak mudah dikenali. Karena memang tak ada namanya atau belum ada yang mampu memberikannya nama. Tiap sore hari menjelang Maghrib, istrinya kejang-kejang. Disusul kemudian dia merintih kesakitan seperti orang terbakar. Sakit akan mereda hingga malam. Nanti menjelang fajar sakit itu datang kembali. Sudah setahun kiranya istri Pak Kuwu menderita keganjilan tersebut.
Nasihat Ki Mantri tak memuaskan hatinya. Sama saja seperti penjelasan medis berpuluh klinik, puskesmas, rumah sakit dan tabib-tabib. Hanya geleng-geleng kepala yang selama ini Kuwu dapat. Bukan penjelasan logis. Semua nasihat dari banyak teman dan saudaranya juga tak membuat hatinya lapang. Toh istrinya tetap sakit setiap pergantian siang dan malam.
"Sehari dua hari masih kuat. Tapi ini sudah berbilang hari, sudah banyak minggu dan tak terhitung bulan. Saya tidak kuat menyaksikan istri s…
Recent posts

SITASI ATAU REFERENSI (untuk Mahasiswa ISIF)

Dalam sebuah karya ilmiah lazim dituliskan sumber diperolehnya suatu data. Sitasi adalah cara penulis memberitahukan kepada pembaca bahwa bagian-bagian tertentu dalam karyanya (makalah, skripsi, tesis, atau disertasi) berasal dari sumber yang telah ditulis orang lain. Sitasi bertujuan untuk menjunjung kejujuran akademik juga menghindari plagiarsime.
Kate L. Turabian (2010) sendiri menjelaskan bahwa sedikitnya ada empat hal mengenai pentingnya melakukan sitasi atau mencantumkan referensi yang diacu dalam karya penelitian. Memberikan apresiasi (kredit) kepada penulis yang karyanya disitasi.Meyakinkan pembaca mengenai keakuratan data atau informasi yang diperoleh sekaligus untuk mendapatkan kepercayaan pembaca.Menunjukkan kepada pembaca tentang tradisi penelitian yang mendukung atau mempengaruhi karya.Membantu pembaca untuk mengikuti atau mengembangkan penelitian tersebut. Sitasi dan referensi tentu akan membantu mengarahkan pembaca untuk menemukan artikel atau tulisan yang dirujuk dengan …

Dewi Sri Minggat

Entahlah kodrat atau bukan, manusia sejak zaman kuno merasa bahwa kehidupannya selalu dihantui dengan kecemasan, ketidakpastian, dan tentu saja kematian. Inilah yang menjadi pijakan para penelaah peradaban kuno untuk membaca kemunculan tuhan dan hal gaib lainnya dalam kehidupan manusia. Dalam pembacaan para peneliti itu, manusia kuno percaya bahwa di luar sana ada sesuatu yang mengatasi semua kelemahan. Ada realitas yang mengatasi semua keterbatasan manusiawi. Itulah para dewa, tuhan, sesuatu yang adikodrati. Mereka juga percaya bahwa manusia juga bisa menjadi seperti seperti dewa dengan melakukan metode hidup yang benar.
Mereka percaya dengan terlibat dalam kehidupan yang suci, dengan meniru cara-cara dewa, manusia biasa bisa menjadi manusia sejati. Dewa selalu diidentikkan bersemayam di langit, tapi untuk mewujudkan kekuatan mereka di dunia, manusia mereplikasi para dewa ke dalam alam nyata dalam bentuk kuil, festival, perayaan dan ritual harian. Dengan begitu, dunia manusia adalah r…

Menjadi Kamu, Anggit

Kulihat sudut matanya berair. Mukanya masam, matanya merah. Meski wajahnya terlihat tegar, perempuan yang duduk di sampingku itu tak bisa menyembunyikan luka. Asih, istriku tak kuat menahan air matanya. Jarang sekali saya melihatnya begitu muram. Dia tak pernah menampakkan wajah sedih. Kalaupun pernah tak pernah sedalam ini. Sesekali dia menyeka air matanya sambil mengelus rambut anakku, Anggit yang tertidur di pangkuannya.
Anggit sakit. Ada masalah di kandung kemihnya. Hal yang tak pernah kami bayang-bayangkan sebelumnya. Terpikir pun tidak. Mana ada tumor dalam tubuh anakku yang ceria itu. Kalau tidak karena darah yang keluar , aku tidak juga yakin bahwa tubuhnya bermasalah. Sore di hari Minggu itu daging tumbuh dalam kemih anakku menyembul keluar lewat saluran kencingnya. Dari luar terlihat seperti gumpalan darah berwarna merah kebiru-biruan. Istriku panik. Aku mencoba menenangkan walau jantungku sendiri berdecak kencang mengetahui pemandangan ganjil tersebut.
Besoknya, pagi-pagi s…

Empat Pendekar Mekah Sebelum Nabi

SAAT Mekah mulai berubah dari kota semi-Badui menjadi kota dengan peradaban yang lebih maju, suku-suku kecil di sekitar mulai berurbanisasi ke Mekah. Mekah menjadi tujuan banyak orang. Mekah semakin ramai dan perdagangan ke daerah Syiria dan Yaman pun semakin menguntungkan. Orang-orang kaya mulai membangun rumah mereka dengan bentuk persegi, hal yang sebelumnya dilarang karena takut akan menyerupai Ka’bah. Pelan-pelan, norma dan nilai masyarakat telah bergeser.
Masyarakat Mekah benar-benar menikmati status barunya sebagai kota terbesar di Arabia. Hal itu tak lepas dari modal agama dan ekonominya. Status inilah yang membuatnya tetap mandiri dan merdeka dari kekuasaan Bizantium dan Persia saat kota-kota lain seperti Sanaa’ di Yaman takluk.
Semakin cepat perubahan situasi di Mekah mengatrol perubahan tingkah polah masyarakatnya. Kemakmuran membuat mereka suka mabuk dan berjudi. Pesta-pesta di dekat Ka’bah dengan mengundang seorang penyair sudah menjadi kebiasaan. Tapi yang paling mengkhawa…