Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2012

Membaca Kertas

KERTAS sudah sedemikian akrab dengan keseharian kita. Tidak ada hari tanpa kertas. Di sekililing kita kertas. Semuanya kertas. Mulai dari makalah tugas kuliah, koran yang tiap hari dibaca, buku, serakan so’al ujian, bungkus gorengan, bahkan kitab suci yang kita sakralkan. Sebegitu akrabnya, hingga seringkali lupa dan malas untuk menengok sedikit saja, sebenarnya siapa dia? Kertas yang menjadi bagian dari diri kita itu.
Sejarahwan mungkin akan  bilang bahwa kertas adalah nama benda pertama kali ditemukan di Mesir sekitar tiga abad sebelum masehi. Mereka menggunakan daun papyrus dengan bentuknya yang lebih ringan daripada media tulis sebelumnya seperti gerabah, batu, tulang, keramik, ataupun logam. Di atas daun papyrus inilah orang Mesir menuliskan dirinya. 
Daun “papyrus” sampai sekarang masih dipakai untuk menyebut kertas (ingg. paper). Ia menjadi semakin ringan dan praktis saat lembar-lembar tipis itu ternyata bisa dibuat dari serat-serat sekitaran abad 1 masehi di Cina. Sejak itu, dia…

Mendambakan Netralitas Polisi dalam Pilkada

AWAL tahun depan (2013) Kota Cirebon akan menyelenggarakan sebuah hajat besar, pemilihan Walikota. Memang masih cukup lama hingga gelaran itu dilaksanakan, akan tetapi gemanya sudah dirasakan semenjak sekarang. Spanduk-spanduk, baligho, iklan media cetak. Online maupun elektronik menjadi media yang sudah sejak dini meramaikan hajat tahunan ini. Jargon dan janji para bakal calon pun diumbar dengan sangat merajalela.
Dari tahun ke tahun, apalagi pasca reformasi, pemilukada baik pemilihan wakil rakyat maupun pemilihan pimpinan daerah (walikota) selalu menjadi magnet tersendiri. Berbagai kepentingan untuk mmeperebutkan jabatan pimpinan sebuah kota selalu saja terjadi. Cita-cita memajukan dan mengembalikan kejayaan Kota Cirebon juga menjadi motif tersendiri bagi orang yang mencalonkan diri.
Cita dan keinginan inilah yang kerap kali menimbulkan kefanatikan dan tidak bisa menerima kekalahan. Untuk menjadi calon walikota saja perlu ratusan bahkan miliyaran rupiah. Sehingga rawan perselisihan. B…

Tape Berbaju Daun Jambu

SIAPA yang tak kenal tape ketan. Makanan yang bisa dijumpai di wilayah Ciayumajakuning biasanya dibuat hanya saat hajatan. Di Kuningan, tape menjadi jajanan yang sangat istimewa. Tape ketan kuningan menggunakan bungkus dari daun jambu. 

Biasanya tape ketan hanya dibungkus dengan daun pisang. Aroma daun jambunya menambah kenikmatan rasa tape. Di daerah cigugur dan banyak daerah lain di kuningan pembuatan tape berbungkus daun jambu menjadi trend home industri.

Tape ketan ini berbahan baku nasi ketan yang dicampur dengan daun katuk sebagai pewarna alami. Kemudian setelah ditiriskan dan didinginkan, ketan tadi ditaburi dengan ragi, kemudian ketan tadi dibungkus dengan daun jambu yang telah dikukus dan dibersihkan terlebih dahulu. setelah itu ketan ditutup rapat agar proses fermentasi berjalan dengan baik. 
Tiga hari setelah penyimpanan tape ketan beraroma daun jambu yang khas pun sudah siap untuk di santap. Tape yang sudah matang ini bisa bertahan sampai sepuluh hari dengan catatan tidak ter…

Buruk Rupa Radikalisme Agama

LAGI dan lagi. Seakan kasus intoleransi tidak ada habisnya di wilayah Cireobon dan sekitarya. Pertengahan bulan Maret kemarin publik seperti dikejutkan oleh penembakan yang terjadi di GKI Indramayu. 
Meskipun dari olah TKP dan penyidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian memunculkan motif yang tidak ada kaitannya dengan masalah agama. Akan tetapi tetap saja, dalam konteks ini isu kekerasan atas nama agama terlanjur mengapung di pemukaan.
Kejadian ini seolah menjadi catatan lemahnya jaringan intelejen aparat dan juga sebagai tanda bahwa tingkat sentimen agama yang seringkali memunculkan kekerasan atas nama agama masih juga tinggi. Kejadian di GKI Indramayu tersebut juga mengingatkan kita pada kejadian bom bunuh diri di mapolresta Cirebon. 
Dalam kasus tersebut, pemahaman agama yang sedemikian rupa bisa membuat sesorang untuk tega menyakiti dan membunuh. Apalagi kalau bukan radikalisme agama yang masih subur dan bertebaran dalam kehidupan beragama di Cirebon.
Selain kasus di atas kiranya…

Banjir Korupsi di Kota Cirebon

Siapa bilang banjir hanya identik dengan air. Nyatanya banjir bisa juga karena banyaknya korupsi uang rakyat. Korupsi yang membanjir. Seperti banjir, korupsi bagi orang kita biasa saja, kewajaran, lumrah saja.
Hujan deras yang mengguyur daerah pantura Jawa Barat awal tahun ini (2012) mengakibatkan banjir. Kota Cirebon pun tergenang air yang mencapai ketinggian 70 sentimeter. Sebagian warga mengungsi, ada juga yang tercengan heran, “Kok bisa yah, Cirebon banjir”. Besoknya, belasan media, lokal maupun nasional menafsir banjir di Kota Cirebon tersebut. Ada yang mengatakan banjir tersebut karena curah hujan yang tinggi. Ada juga yang bilang karena air kiriman dari pegunungan. Ada pula yang bilang itu semua adalah wadal bagi proyek pembangunan sebuah kompleks perbelanjaan elit di tengah kota Cirebon. Apapun ihwal itu, banjir selalu menimbulkan kerugian, kecemasan, kerusakan, kepanikan, kemelaratan dan kehancuran manusia.
Di Cirebon, banjir tidak hanya dalam artian air. Dengan modus yang berb…