Skip to main content

Ilmu Dadu dari Najwa




HARI itu hari Selasa, 22 Januari 2013, tepat 2 hari sebelum puncak acara Muludan di daerahku, Cirebon. Orang-orang di daerahku sering menyebut puncak acara tersebut dengan panjang jimat atau malam pelal. Sampai sekarang aku belum tahu persis makna di balik kedua nama tersebut dan belum merasa tertarik untuk mencari tahu. Dan yang pasti  siang itu ketertarikanku terlebih dahulu tersandera oleh kejadian kecil di rumahku.

Ceritanya berawal ketika aku sedang melihat adikku, Najwa Hamidah, sedang asyik bermain ular tangga. Sepintas memang biasa saja, tapi setelah beberapa saat mengamati ternyata ada hal yang luar biasa terpercik, setidaknya menurutku.

Najwa, adikku itu baru berumur 5 tahun, sementara teman bermainnya adalah anak dari sepupuku, namanya Ijah. Dia juga berumur antara 5 sampai 6 tahun. Kesan pertama, anak seusia mereka dengan papan ular tangga bagiku cukup aneh. Mungkin kalau bagi anak yang biasa bermain di playgroup di kota akan terkesan biasa. Toh, mereka sudah sangat akrab dengan permainan (meskipun tak tahu ular tangga masuk kurikulum playgroup tidak?).

Kesan aneh itu menurutku beralasan karena bagi anak-anak di kampung seusia tersebut mereka belum mengerti bermain ular tangga. Meskipun aku sadar sepenuhnya bahwa pikiranku sudah dipenuhi asumsi orang dewasa pada umumnya dengan segala justifikasi kebenaran dan kewarasan.

Dalam kacamataku, perilaku mereka berdua menggelisahkan, ganjil. Ah, tidak mungkin mereka main ular tangga. Meskipun demikian fakta mereka bermain ular tangga mau tidak mau menarik perhatianku dan kembali membuatku heran. Tibalah aku pada heran pada tingkat yang kedua.

Akhirnya aku putuskan untuk menjadi teliksandi, membuka mata, telinga, dan seluruh potensi indera. Dengan seksama aku amati dan hasilnya aku renungkan sejenak: nah ternyata mereka bermain dadu, pion di sebidang kertas bergambar sama sekali bukan main ular tangga.

Mereka memainkan alat-alat permainan ular tangga dengan cara mereka sendiri, tidak dengan aturan sebagaimana “lazim”-nya. Pantas meski mereka masih kecil, ga paham, tetapi bisa menikmati permainan itu. Kenikmatan mereka terlihat dari tawa keceriaan dan kadang tidak bisa aku pungkiri dari senyum kecil mereka.

Kejadian kecil itu membuatku merenung lebih dalam: meskipun dengan alat dan benda yang sama, manusia bisa menjadikan permainannya berbeda. Dari sini kita tentu bisa menjadikan alat-alat dan perangkat permainan tersebut sebagai permainan yang bernama ular tangga. Bisa juga menjadi permainan dadu, pion di sebidang kertas bergambar, atau permainan apapun yang kita kehendaki sesuai dengan”tujuan” kita dengan alat berupa dadu, pengocok dadu, pion berwarna-warni dan selembar karton bergambar ular tangga.

Lalu adakah pilihan yang beragam dari satu perangkat permainan tersebut terjadi (wujud) atau bisa terjadi (mumkin al-wujud) di dunia? Kita taruh dulu pertanyaan pelik ini dan nyatanya yang disebut  “ular tangga” adalah permainan dengan seperangkat aturan yang mengelolanya.

Bahwa setiap manusia yang bermain  harus diwakili oleh satu pion. Satu per satu pion adalah wakil dari manusia di permainan banyak orang. Dan karena banyak orang maka setiap pion harus dibedakan dengan yang lainnya. Pion oleh karena itu berfungsi sebagai representasi manusia (pemain). Selanjutnya pembedaan pion biasanya dibuat berdasarkan warna. (dalam permainan monopoly pembeda pion adalah warna sekaligus bentuknya)

Setiap warna mewakili satu orang pemain dan warna itu otomatis menjadi identitas pemain tertentu. Artinya begitu si A memilih warna merah, maka dalam permainan pion merah identik dengan pemain A. Pemain A dalam permainan tersebut mempunyai identitas sebagai pion merah, dan seterusnya.

Penentuan identitas dalam permainan ini dilakukan tidak selalu atas dasar suka-suka dan semua senang, justeru seringkali terjadi konflik (karena memang saat manusia sudah ditatoi dengan identitas maka dengan sendirinya mereka berpotensi konflik). Dalam kasus tertentu bisa saja terjadi ada dua orang atau lebih yang lebih suka dan lebih memilih warna yang sama. Entah itu karena dia punya sejarah spesial dengan warna bersangkutan atau secara psikologis memang dekat dengan warna tertentu. Maka disini jika power[1]-nya setara, maka akan terjadi negosiasi antara kehendak satu  dengan kehendak yang lain dalam sebuah struktur permainan yang rasional.

Aturan lainnya yang tak kalah penting adalah setiap pion harus berjalan kotak per kotak dengan rujukan dari dadu yang keluar dari kocokan si pemain. Dadu sendiri terdiri dari lingkaran yang melambangkan angka 1 samapi 6. Jadi, kalau yang keluar dadu 1 maka pion harus berjalan satu kotak. Jika yang keluar dadu 2 maka pion harus berjalan 2 kotak dan seterusnya.

Dengan jumlah seluruh kotak dalam bidang permainan sebanyak 36, maka setiap pion harus berlomba-lomba untuk mencapai kotak ke -36. Karena barangsiapa mencapai kotak terakhir pertama kali, maka dialah pemenangnya. Ini berarti semakin sering dapat angka dadu besar semakin besar kemungkinan menang.

Logika “semakin sering dapat angka dadu besar semakin besar kemungkinan menang” ternyata harus mendapat sedikit lagi polesan. Permainan yang menarik selalu menuntut untuk membuat kejutan, hentakan logika, lompatan, dan unvisibility. Sesuatu yang menyakinkan kita bahwa faktor lucky menjadi inti permainan.

Sampai di sini aku setuju permainan ular tangga diberi nama ular tangga karena memang inti dari permainan ular tangga adalah ular dan tangga. Setelah berbelit-belit dengan logika permainan seperti yang disebutkan di atas, ada satu aturan lagi yang menjadi inti permainan bahwa untuk setiap pion yang jatuh di pangkal tangga maka pion tersebut berhak naik sampai ke ujung tangga. Kebalikannya (penyeimbangannya) setiap kali pion menginjak/jatuh di ekor ular maka dia harus rela untuk turun sampai ke kepala ular. Tidak cukup sampai di situ, dinamika permainan pun dibuat sedemikian rupa dengan menciptakan variasi panjang ular dan tangga.

Demikianlah, se”harus”nya atau se”lazim”nya adikku, Najwa, bermain ular tangga. Tidak melulu perangkat akan tetapi juga membawa serta aturannya. Seperti sudah sampai pada kesimpulan, tiba-tiba terbersit sebuah tanya: “apakah aku harus menyampaikan aturan-aturan itu pada Najwa?”, merasa tidak etis juga akhirnya membalik pertanyaan “apakah yang se”lazim”nya demikian? Apa yang se”harus”nya begitu ?

Setahuku, yang “lazim” itu dalam perjalanan menjadi dirinya selalu menjadi sesuatu yang menyisihkan segala yang “liyan”. Meskipun keduanya sama-sama berpotensi mengada, atau karena keduanya berpotensi mengada. “Liyan” bisa diartikan dengan “ada” yang hanya menjadi potensi belaka karena eksistensinya disembunyikan di balik jubah ke”lazim”an. Kalau demikian, membunuh yang “liyan” sama saja mengancurkan daya kreatifitas adikku sendiri. Tentu aku menolak diri, karena bagiku yang kreatif adalah bukan selalu yang baru, akan tetapi lebih merupakan kemampuan  merubah yang potensial menjadi yang eksis.

Jadi, menurutku, dengan tetap dalam keadaan manggut-manggut, menjadikan permainan ular tangga sebagai permainanku adalah menjadi diri (self) untuk lepas dari aturan yang dikonstruksi oleh sifat tatanan sosial yang rasional dan deterministik.

Meskipun demikian, dalam kasus Najwa, aku tidak bermaksud untuk membenarkan tindak tanpa rasio. Tapi yang di luar rasio perlu disadari kembali keberadaannya dan kemampuannya untuk bisa menjadi alternatif bagi sebuah tatanan kehidupan di masa depan. Karena saat sekarang, jujur aku merasa dalam kehidupan ini, diri (self) terbeli oleh tatanan sosial yang menguat. Jadilah diri yang asalnya otentik berubah menjadi diri yang dikonstruksi, orang bilang ini adalah alienasi. Kalau sudah demikian, maka human tidak lagi mendapat  tempat dalam ruang hidupnya sendiri. Dia terancam.

Tata kehidupan yang rasional dengan gejala adanya struktur menjadikan manusia lenyap tak berbekas hanya tersisa struktur. Manusia ada dan mengada hanya sebagai variabel dari sistem masyarakat yang ambigu. Parahnya, sekarang sistem yang ambigu ini bisa dikuasai dan dikendalikan sebagian orang atau paling tidak dipercayai dan diyakini demikian. Meyakini bahwa jalannya adalah jalan Tuhan, jalan suci, jalan ke barat (road to the West). Tidak heran jika Talcot Parson menghendaki sebuah struktur yang deterministik dalam kehidupan masyarakat. Dalam angannya, masyarakat bisa diatur dengan rapih jika dicetak dan direkayasa dengan baik.

Pada akhirnya, mahar dari pola pikir dunia modern yang rasional harus dibayar mahal: dehumanisasi. Tapi jangan khawatir, hari esok menjanjikan hal yang lebih baik. Karena nyatanya dari dulu makhluk yang bernama manusia itu tidak bisa dirapihkan, dicetak, direkayasa bahkan hanya sekedar untuk didefinisikan.

Sampailah heranku pada Najwa berada di tingkat ketiga: bagaimana aku bisa tahu banyak hal dari hanya sekedar permainan ular tangga? permainan dadu dari Najwa. Akupun akhirnya berlalu sambil tetap membiarkan tawa kecil Najwa. Tawa biasa saja yang tidak seperti senyuman boneka plastik atau robot tanpa nyawa. Wallahu a'lam.







[1] Jika ada anak yang lebih tua dalam permainan, maka anak yang lebih tua kadang memaksakan diri memilih warna yang dia sukai tanpa memperdulikan ada pemain lain yang menginginkan warna tersebut (tua juga bisa bermakna bukan sebagai penjelas umur). Jadi negosiasi adalah satu saja cara resolusi konflik.