ilustrasi:
gadingpublisher.blogspot.com
Judul : Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat
Penulis : Martin van Bruinessen
ISBN : 978-602-198056-5
Tebal: xviii + 575
Terbit: 2012
Penerbit: Gading Publishing 

*****
Mungkin ini satu-satunya buku yang dengan begitu fasih menguraikan akar kemunculan dan kesinambungan tradisi keilmuan Islam di Indonesia. Pergumulan yang intens dengan dunia keislaman di Indonesia membuat Martin Van Bruinessen mampu menggambarkan akar tradisi keilmuan ini dengan lengkap dan mendalam.

foto: tiasetiawati.wordpress.com
Ibu kita kartini/ putri sejati/ putri indonesia/  harum namanya ....
Wahai ibu kita Kartini/ Putri yang mulia/ Sungguh besar cita-citanya/ Bagi Indonesia

Hampir semua orang hafal lirik lagu ‘Ibu Kita Kartini’ di atas. Hal itu bukti bahwa Kartini dinilai sebagai sosok sekaligus simbol penting bagi perjuangan Indonesia, terutama perempuan. Bahkan untuk mengenang jasanya, tanggal lahir Kartini, 21 April diperingati sebagai sebagai tonggak kebangkitan perempuan Indonesia. Hari ini kemudian dikenal dengan Hari Kartini.

Setiap hari ini tiba, setiap elemen masyarakat merayakannya. Di sekolah-sekolah, dari mulai Taman Kanak-kanak sampai SMA, di instansi pemerintah, sampai perusahaan swasta, perayaan Kartini diisi dengan lomba-lomba. Dan yang tak ketinggalan saat perayaan Hari Kartini tiba adalah penggunaan kebaya atau pakaian adat lainnya. Semua bersibuk-sibuk ria dengan aneka kostum dan diskon belanja yang katanya ‘ala Kartini’.

Bicara kekinian tentu tidak bisa lepas dari gelombang pemikiran yang mengejutkan di abad 20, posmodernisme. Sejenak mari membincang sedikit satu bilah dari diskusi sengit dalam putaran wacananya: reproduksi. Tentu tidak akan relevan jika tidak kita tarik hubungan paradigmatiknya terhadap masa kini di sini.

Sebagai bentuk kritik menyeluruh terhadap modern, diskusi mengenai posmodern tentu akan lebih baik jika didahului dengan pandangan tokoh yang berpandangan modern. Hal ini untuk memperoleh sedikit gambaran tentang pemikiran modern. Begitupun dengan diskusi tentang poskolonial, akan lebih baik jika kita menghadirkan dulu biang keladi dari situasi yang serba kolonial terlebih dahulu.


POESPOPRODJO dengan lantang mengatakan bahwa hidup adalah proses interpretasi. Oleh karena itu, tidak ada satupun manusia yang tidak menginterpretasi.[1] Mungkin tidak terlalu berlebihan, karena kalau manusia lebih dalam lagi merenungi dan memaknai setiap inci proses hidupnya maka tidak lain antara dia dan realitas terdapat satu proses menafsir sebelum akhirnya memperoleh makna, pemahaman, penjelasan yang seterusnya dilanjutkan dengan suatu tindakan. Tidak mungkin manusia akan bertindak (sekecil apapun) tanpa terlebih dahulu dia memahami dulu, dan pemahaman ini selalu berangkat dari interpretasi.

Proses interpretasi-pemahaman-tindakan, selalu dilakukan saban hari oleh manusia. Saking biasanya, hingga kadang proses interpretasi ini sendiri tidak selalu disadari. Contohnya adalah saat kita memutuskan untuk “kencing”, secara tidak sadar kita terlebih dahulu memperoleh pemahaman dari perasaan air seni yang mendesak di kandung kemih. Keterdesakan ini diinterpretasikan secara sederhana sehingga pemahaman hendak kencing berbeda dengan keterdesakan hendak berak atau yang lainnya. Dalam benak, secara otomatis sudah terbayang apa yang harusnya dilakukan saat keterdesakan kencing. Maka dalam benak pasti akan terbayang: bagaimana nanti kencing?, dimana tempat untuk kencing?, masih mungkinkah kencingnya untuk ditahan beberapa saat? Itu semua adalah proses interpretasi.

Sampai di sini kiranya dapat dipahami bahwa proses interpretasi dalam kehidupan manusia sesungguhnya adalah inti kehidupan itu sendiri. Jika begitu, filsafat yang mengklaim sebagai penjelas dari terang kehidupan sesungguhnya memiliki semacam inti juga, yakni interpretasi. Hal ini disadari oleh Jean Grondin dengan mengatakan bahwa dalam obrolan filsafat, hermeneutika berfungsi menjadi semacam prima philosophia (filsafat utama)[2]. Karena setiap tindak filsafat dan aliran-alirannya yang berbeda-beda seantero dunia memiliki kesamaan, yakni semuanya adalah interpretasi.[3] 

Hermeneutika yang merupakan tradisi penafsiran dalam agama Kristiani, dalam sejarah monumentalnya pernah memeti-eskan kesangsian terhadap klaim kebenaran daya rasio filsafat untuk kemudian dibuka oleh generasi para teolog protestan abad 18. Kesangsian ini meletup satu per satu (Nietzsce, Kant, Jacobi, Schleiermacher) dengan garis linier (garis teolog Kristiani). Dan akhirnya menjadi bentuk hermeneutika seperti yang kita pahami sekarang berkat Friederich Scleiermacher.

Dalam perkembangannya, hermeneutika melebihi ekspektasi dari para pencetus dari kalangan teolog tersebut. Hermeneutika dalam iktikad Fenomenolog seperti Heidegger menjadi alat untuk berfilsafat. Hermeneutika yang tadinya sempit (hanya alat menafisr teks) dikembalikan ke tempatnya semula menjadi daya interpretasi segala hal. Objek hermeneutika tidak hanya teks melainkan realitas, hermeneutika menjadi cara berfilsafat. 

Ciri khas berfilsafat dengan menggunakan hermeneutika adalah kesangsiannya terhadap klaim kebenaran, termasuk kedigdayaan klaim rasio yang marajalela di Barat pasca-pencerahan. Hermeneutika membuka asa bagi kemanusiaan dan segala macam eksistensi manusia dan tradisinya. Hermeneutika juga memaksa filsafat untuk mengakui yang liyan sebagai sumber kebenaran yang mempunyai kadar dan kualitas yang setara, pluralitas. Pluralitas inilah yang menjadi batu semangat hingga mengantarkan pemikiran kontemporer ke pintu gerbang Postmodernisme.

Biografi Singkat

Martin Heidegger lahir di daerah Black Forest, Messkirch, Jerman pada 26 September 1889 dari pasangan Friederich dan Johanna Heidegger. Friederich adalah seorang penganut Katolik yang bekerja sebagai koster gereja St. Martinus. Mungkin nama gereja ini menginspirasi ayah Heidegger untuk memberikan nama depan padanya. Sejak muda, Heidegger sudah menunjukkan intelektualitasnya. Dia bersekolah -sebuah sekolah menengah- di gymnasium kota Konstanz pada tahun 1906. Ia juga sempat meniti karir kependetaan ketika memutuskan untuk masuk novisiat Serikat Yesuit di Tisis (1909).[4]

Heidegger kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Freiburg, universitas yang memiliki madzhab fenomenologi. Ia mengikuti kuliah tologi selama empat semester. Dari sanalah dia mengenal pemikiran Aristoteles dan pemikiran tentang konsep Ada dari Plato. [5]

Heidegger memperoleh gelar doktor pada tahun 1913 dengan disertasi berjudul Die Lehre vom Urteil im Psychologismus (Ajaran tentang Putusan dalam Psikologisme) yang membahas pertentangan antara psikologi dan logika. Pada tahun 1915, dia menjadi profesor dengan tulisan berjudul Die Kategorien-und Bedeutungslehre des Duns Scotus (Teori Duns Scotus tentang Kategori-kategori dan Makna) di bawah bimbingan Heinrich Ricket, seorang penganut neo-Kantianisme. Karyanya tersebut didasarkan pada karya bernuansa skolastik milik Duns Scotus, seorang pemikir etika dan keagamaan abad 14 (belakangan itu diduga karya Thomas dari Erfurt). Buku dari Heidegger ini memperlihatkan bagaimana dia ahli dalam filsafat pertengahan, terutama metafisikanya.[6]

Pada tahun 1916, Edmund Husserl datang ke Universitas Freiburg menggantikan Heinrich Rickert. Heidegger yang sudah lama tertarik pada fenomenologi menyambut baik hal itu. Kemudian dia menjadi sahabat kental Husserl. Husserl pun mengakui kecerdasan Heidegger dan mengangkatnya menjadi assisten. Pada tahun berikutnya, tepat saat pecahnya revolusi Rusia, Heidegger menikahi Elfriede Petri dan memiliki dua anak laki-laki.[7]

Setelah mengkaji pemikiran Husserl, pada tahun 1923 Heidegger menjadi profesor di Marburg dan di sinilah dia menulis magnum opus-nya, Sein und Zeit (Being and Time) pada tahun 1927.[8] Karya ini terbit dalam Jahrbuch fur Phanomenologie und Phanomenologischen Forschung – suatu publikasi tahunan yang dipimpin oleh Edmund Husserl.[9]

Heidegger juga menerbitkan karya lain seperti: Kant und das Problem der Metaphysik (Kant dan Problem Metafisika) – 1929, Was it Metapysik? (Apa itu Metafisika?) – 1929, Holzwege (Jalan-jalan Buntu) – 1950, Einfuhrung in die Metapysik (Pengantar Metafisika) – 1953, Was heisst Denken? (Apa yang Dimaksud Pemikiran?) – 1954, Vortraage und Aufsatze (Ceramah-ceramah dan Karangan-Karangan) – 1954, Indentitat und Differenz (Identitas dan Perbedaan) – 1957, Die Grundprobleme der Phanomenologie (Problem-Problem Dasar Fenomenologi) – 1957, dan lain-lain.[10]

Pada tahun yang sama, Heidegger memulai hubungan dengan filsuf perempuan keturunan Yahudi, Hannah Arendt. Saat itu, Heidegger berusia 35 tahun sementara Arendt berusia 18 tahun. Peristiwa ini dikenal dengan “perselingkuhan dua filsuf besar”. Pada tahun 1931, hubungan ini mencapai bentuk dramatiknya ketika Heidegger memutuskan untuk menjadi anggota partai Nazi, NSDAP. Dua tahun kemudian secara resmi. Heidegger menjadi Rektor Universitas Freiburg, meskipun Cuma berumur 10 bulan. Di masa-masa ini hubungan Heidegger dengan Husserl memburuk karena Husserl adalah seorang Yahudi yang tidak mau meninggalkan Jerman.[11]

Pada tahun 1945, seusai perang setelah Nazi kalah, Heidegger tidak diperbolehkan mengajar oleh penguasa sekutu di Jerman Selatan. Ia baru diperbolehkan mengajar kembali pada tahun 1951. Masa hidupnya kemudian dia habiskan di sebuah pondok (hutte) di Totnauberg, Freiburg. Akhirnya, pada 26 Mei 1976 Heidegger meninggal dunia pada usia 86 tahun. Orang-orang mengenangnya dengan sebutan Der Zauber aus Messkirch (Sang Pemikat dari Messkirch). Ada juga yang menyebutnya sebagai Philosophiekonig (Raja Filsafat), agak terlalu berlebihan memang, tapi paling tidak dalam rentang hidupnya sebagai seorang filsuf, Heidegger mempengaruhi banyak filsuf. Diantaranya adalah muridnya sendiri Hans-Georg Gadamer, Hans Jonas, Emmanuel Levinas, Hannah Arendt, Leo Strauss, Xavier Zubiri, Karl Lowith, Mourice Merleau-Ponty, Jean-Paul Sartre, Jacques Derrida, Michel Foucault, Jean-Luc Nancy, dan Philippe Lacoue-Labarthe. Selain hermeneutika, Heidegger dianggap berpengaruh besar juga terhadap eksistensialisme, dekonstruksi, dan postmodernisme. Meskipun demikian, Heidegger dianggap tidak bernilai oleh sejumlah pemikir kontemporer seperti kumpulan filsuf dalam Lingkaran Wina, antara lain Theodor Adorno, Bertrand Russel dan Alfred Ayer.[12]

Heidegger adalah pemikir yang menunjukkan originalitasnya meskipun harus disadari bahwa dia muncul bukan di ruang hampa, dia makhluk sejarah (menyejarah). Pemikirannya banyak mendapat pengaruh dari Friederich Nietzche, Soren Kierkegaard, dan tentu saja Edmund Husserl.[13] Ketertarikannya pada hermeneutika mungkin karena perkenalan pertama dia dengan filsafat adalah lewat kelas teologi. Dalam kelas teologi waktu itu tentu hermeneutika -sebagai alat untuk menafsirkan Bible- menjadi primadona. Meskipun demikian, sebagai seoarang profesor filsafat tentu Heidegger lebih dikenal sebagai seorang filsuf daripada seorang teolog. Oleh karena itu, pada akhirnya hermeneutika di tangan dia dikembalikan pada asalnya. Hermenutika lebih menjadi cara berfilsafat daripada menjadi sebuah modul untuk menafsirkan teks belaka.

Fenomenologi Hermeneutis

Jika anda membaca tulisan tentang Heidegger dan berharap akan menemukan satu kaidah penafsiran teks di dalamnya, maka anda akan kecewa. Maka fokus tulisan ini adalah apa yang sebenarnya Heidegger cari? Dan mengapa dia menggunakan hermeneutika?

Richardshon membedakan pemikiran Heidegger menjadi dua gelombang. Gelombang pertama, meliputi “Being and Time” - yang banyak orang percaya belum tuntas. Dalam periode pertama, Heidegger membahas tentang “ada”, dan satu-satunya makhluk yang mempertanyakan tentang “ada” adalah manusia. Dalam bahasannya di dalam buku tersebut, manusia disebut oleh Heidegger sebagai “dasein” – manusia pada hakikatnya “ada” (sein) yang berada di situ (da). Berbeda dengan makhluk lain, manusia tidak ada dengan begitu saja akan tetapi senantiasa berkaitan erat dengan “ada”-nya sendiri.[14]

Gelombang kedua pemikiran Heidegger sering disebut sebagai kehre atau “pembalikan”. Pemikiran pada gelombang kedua ini merupakan kelanjutan dari gelombang pertama, fungsinya melengkapi bukan mengsubtitusi pemikiran gelombang pertama. Heidegger menyadari bahwa ketidaktersembunyian “ada” merupakan suatu kejadian yang paling asali. Kalau sebelumnya dalam tradisi filsafat barat posisi “ada” dalam hakikatnya yang asali adalah dalam ketersembunyiannya -lalu tugas manusia filsuf adalah untuk menyingkap ketersembunyian ini- maka Heidegger mencoba untuk membaliknya. Kemudian berdasarkan atas pembalikan ini, dia menafsirkan kembali seluruh tradisi filsafat barat.[15]

Alasan Heidegger melakukan pembalikan ini adalah karena dalam bahasa Yunani kebenaran disebut dengan aletheia yang dimaknai Heidegger berasal dari kata a artinya tidak dan lethe artinya ketersembunyian. Menurut dia, pengalaman Seinsvergessenheit (lupa akan ada) harus menggerakkan pikiran untuk mengaktualisasikannya. Oleh karena itu, metafisika harus dilampaui dengan mengembalikannya pada hakikatnya, metafisika tidak lagi menentukan, kita harus kembali pada yang asali. Berfikir yang benar adalah kembali pada masa “sein”. Menurut Heidegger, hakikat  persepsi. Dalam kehidupan nyata, kata lebih sering menentukan daripada fakta atau perbuatan. Sehingga dalam upaya filsafatnya Heidegger meletakkan bahasa sebagai pusat pembahasannya. Menurut dia tanpa bahasa, pada hakikatnya manusia bukanlah manusia.[16] Tesis Heidegger yang meletakkan bahasa sebagai objek materia filsafat inilah yang secara otomatis membawa dia bergelut dalam dunia hermeneutika.

Heidegger, seperti para penganut fenomenologi lainnya menolak asumsi filsuf analitik mengenai bahasa yang berfungsi hanya sebagai alat komunikasi saja. Bahasa pada hakikatnya dipandang sebagai berkaitan langsung dengan proses penyampaian arti. Tidak dikatakan bahasa jika dia tidak menympaikan arti apa-apa (tidak mufid). Dikatakan bahasa meskipun itu tanpa kata dan mendatangkan arti. Bagi Heidegger, bahasa adalah apa yang memicu munculnya kegiatan berfikir.

Heidegger sangat tidak setuju jika bahasa didekati secara logika, dalam artian dianalisis struktur kalimatnya secara pragmatik. Bahasa tidak mungkin diformulasikan dengan logika yang ketat, yang demikian justeru menyembunyikan hakikat bahasa yang sesungguhnya. Bahasa adalah keterbukaan manusia terhadap “dasein” yang ditunjukkan dengan berfikir dan berkata-kata adalah menampakkan “dasein”. Berkata dan berfikir oleh karena itu adalah tindak menciptakan ruang yang dibutuhkan bagi munculnya “dasein”.[17] (hakikat ruang adalah kita dapat dengan leluasa, ruang bicara, ruang berpendapat, ruang berkreativitas. Ruang bagi dasein adalah potensi memahami. Karena sifatnya meruang maka tidak ada yang menempati tempat yang sama dalam satu ruang pemahaman. Artinya tidak ada yang benar-benar memahamai satu ruang dengan presisi, rigid, pasti).

Dalam hal inilah Heidegger mengatakan bahwa bahasa adalah rumah “sang ada”. Dengan lain perkataan bahwa bahasa adalah ruang bagi pengalaman-pengalaman yang bermakna sepanjang rentang kehidupan manusia. Pengalaman yang bermakna inilah yang kemudian mengkristal menjadi semacam saripati kehidupan, substansi dalam term metafisika. Pengalaman menjadi tidak bermakna bila tidak menemukan rumahnya dalam bahasa. Sebaliknya bahasa tanpa pengalaman nyata adalah kosong.[18]

Kalau tadi bahasa menciptakan ruang bagi “dasein”, maka saat orang berbahasa, dia berada dalam sebuah ruang dasein, akan tetapi manusia bukanlah pencipta ruang itu, kita hanya hadir di dalamnya. Di dalam bahasa, realitas lah yang mencapai kita. Bahasa menggunakan manusia sebagai media perantara untuk hadirnya “dasein”. [19] Di sini terlihat bagaimana fenomenoogi Husserl sangat mempengaruhi cara berfikir Heidegger. Lebih lanjut dia mengungkapkan bahwa bahasa adalah proses, bergerak dan dinamis tidak rigid. Maka perhatiannya tidak pada keterbatasan pemakaian kata di masa lalu atau ketepatan filologis melainkan bagaimana agar ia dapat memasuki dinamika bahasa yang selama ini tertutup. [20]

Dari serangkaian hipotesis di atas kemudian bagaimana memahami teks? Pemahaman teks terletak dalam kegiatan mendengarkan lewat bahasa manusia perihal apa yang dikatakan. Kita berupaya mengungkap “dasein” yang terselubung  tersebut dengan menghayati kegiatan kebahasaannya. Usaha-usaha ini, yang mempertemukan bahasa dan pikiran dikenal luas dengan hermeneutika.

Secara eksplisit, Heidegger menyebutkan sendiri filsafatnya adalah fenomenologi dengan metode hermeneutika. Fenomenogi sendiri berasal dari kata phainesthai dan logos yang berarti membiarkan benda-benda menjadi manifes sebagaimana adanya, tanpa memaksakan kategori-kategori kita sendiri pada benda-benda tersebut. Maksudnya, hakikat terdalam pemahaman yang sebenarnya adalah pemahaman realitas yang dibimbing oleh kekuatan realitas tersebut untuk merealisasikan dirinya. Logos, menurut Heidegger adalah apa yang disampaikan ketika berbicara, sedangkan makna yang ingin disampaikannya sebagai hal yang nampak, tidak merupakan suatu makna yang menggejala (fenomena). Yang nampak adalah suatu proses penjelmaan ontologis dari realitas itu sendiri, bukan memaksanya terpahami sebagaimana yang dikehendaki.[21] 

Fenomenologi hermeneutik Heidegger adalah suatu hermeneutika yang membuka sesuatu yang tersembunyi, bukan interpretasi atas interpretasi, melainkan kegiatan interpretasi utama yang membuka hakikat dasein. Hermeneutika dengan ini adalah ciri hakiki manusia, interpretasinya bukan merupakan pemaparan objek yang bersifat material, bukan pula “ada” yang bersifat empiris, tetapi proses pemaparan objek yang dibimbing (bukan ditentukan) oleh verstehen (pemahaman).[22]

Hermeneutika, di tangan Heidegger selalu menghindar dari penafsiran atas sesuatu (teks) yang merupakan penjelasan dari realitas tertentu. Akan tetapi dia berusaha untuk kembali memahami realitas (keber-ada-annya) langsung, ini seperti proses konfirmasi dalam dunia jurnalistik. Akan tetapi kejadian jurnalistik biasanya berlangsung beberapa saat di masa yang relatif sama yang mana memudahkan untuk konfirmasi langsung pada sumber berita. Bagaimana jika realitas yang dijelaskan adalah realitas masa lalu? 

Teksnya juga dengan bahasa zaman itu yang kita tidak bisa mengkonfirmasi secara langsung? Penulis kira inilah fungsi bimbingan dari verstehen, dan tentu saja pemahaman penafsir datang dari teks lapuk tersebut. Hanya saja penafsir tidak berhenti sampai di titik yang telah dicapai teks itu saja akan tetapi meradikalkannya sampai seolah-olah penafsir menghadapi realitasnya sendiri, langsung. 

Jadi, hermeneutika dengan pengaruh dari fenomenologi dari Heidegger ini melucuti realitas dari berbagai asumsi eiditik, generalisasi, kategorisasi dan reduksi manusia, baik dari kerja akal ataupun indera.

Selanjutnya, Heidegger meyakni bahwa hakikat ada tersembunyi dalam proses kerja manusia yang eiditik, generalis, kategoris, dan reduktif terhadap realitas. Proses kerja ini menurutnya ada di dalam bahasa, hingga hermeneutika adalah dengan sendirinya kemestian karena hermeneutika juga berarti asal yang hakiki dari manusia, sebagaimana bahasa adalah yang asali pada manusia.  

Dalam Being and Time, Heidegger menaruh perhatian besar pada “dasein”. Dalam dasein yang ingin diungkap adalah sein, akan tetapi sein selalu melekat dalam keberadaannya di situ (faktisitas) atau “da”. Jadi dengan mudah kita mengasumsikan bahwa pemikiran Heidegger adalah mengembalikan sein pada hakikat kemeruangan dan kemewaktuannya. Pemahaman manusia, menurut Heidegger berkaitan dengan perencanaan di masa depan atas dasar kemungkinan-kemungkinan dari masa lalu. Totalitas kehidupan manusia adalah memahami segala kemungkinan atas dasar masa lalu yang tidak dipisahkan dengan kemungkinan di masa datang. Cara berada manusa ini disebut dengan analisis eksistensialis. Pemahaman menurutu dia adalah kemampuan manusia menangkap kemungkinan-kemungkinan hakikat eksistensi manusia. Pemahaman adalah modus berada di dunia, yang merupakan struktur eksistensial dasein yang memungkinkannya menjadi pengalaman empiri serta memungkinkan terbentuknya pengetahuan yang lainnya. Pemahaman adalah dasar bagi semua interpretasi, dan juga senantiasa hadir dalam interpretasi. Pemahaman bukan sekedar peristiwa neurotik, melainkan merupakan suatu proses ontologis, penguakan sesuatu yang berkaitan dengan eksistensi manusia.[23]

Dalam hubungannya dengan bahasa, arti merupakan hal yang lebih dalam daripada sistem logis bahasa atau bisa jadi lebih dahulu dari bahasa, bahkan merupakan kemungkinan ontologis bagi adanya kata-kata. Arti dan pemahaman merupakan dasar bagi bahasa dan interpretasi. Oleh karena itu, arti bukanlah sesuatu yang diberikan kepada objek melainkan sesuatu yang diberikan objek kepada manusia dengan menyediakan kemungkinan ontologis bagi terwujudnya kata dan bahasa. [24]


Relevansi Fenomenologi Hermeneutis Heidegger terhadap Ulumul Qur’an

Setelah membahas pemikiran hermeneutika dari Heidegger, bahasan selanjutnya adalah adakah relevansi filsafat hermeneutis-nya Heidegger terhadap ulumul Qur’an? Sebelum membahas masalah ini tentu terlebih dahulu menyelesaikan asumsi-asumsi dasar jika “memaksakan” sumbangsih hermeneutika Heidegger terhadap Ulumul Qur’an, diantaranya adalah:

Pertama, posibilitas hermeneutika digunakan dalam penafsiran al-Qur’an. Ada beberapa argumentasi yang mengelaborasi sejauh mana kemungkinan hermeneutika menjadi integral dengan Ulumul Qur’an. Dalam hal ini, penulis meyakini bahwa meskipun tidak semuanya relevan, akan tetapi hermenutika dalam beberapa prinsip filsafatnya akan sangat relevan dengan usaha untuk menafsirkan al-quran yang produktif.

Kedua, kita mengingat pembahasan di atas dan mendapati bahwa hermeneutika Heidegger bukanlah hermeneutika dalam artian metode penafsiran teks. Akan tetapi lebih kepada pemikiran filsafat dengan menggunakan metode hermeneutik. Jadi tentu akan lebih jelas jika kajian ini diawali dengan penjelasan tentang relevansi filsafat hermeneutis (dalam hal ini fenomenologi hermeneutis) terhadap Ulumul Qur’an, dengan mengasumsikan bahwa filsafat adalah pemikiran dan ulumul qur’an adalah sejenis metode penafsiran al-Qur’an yang bersifat lebih teknis maka hal ini sama dengan memperbincangkan permasalahan sumbangsih pemikiran/filsafat terhadap model keilmuan praktis.

Ketiga, gagasan ini otomatis akan membahas kedudukan ilmu-ilmu barat terhadap sistem kelimuan islam. Dalam beberapa hal, terma ini perlu dijelaskan karena masih ada saja yang masih mempertanyakan relevansi ilmu barat dengan ilmu Islam, kita harus jujur bahwa dikotomi ini pun masih langgeng terjadi, meskipun tulisan ini tidak bisa menyelesaikan problema ini akan tetapi setidaknya memberikan gambaran yang jelas tentang perdebatan ini dalam tulisan ini sangat relevan. Mengingat kajian yang dilakukan ini adalah kajian lintas tradisi, budaya dan agama. 


To be continued ......





[1] Poespoprodjo, Interpretasi: Beberapa Catatan Pendekatan Filsafatinya, (Bandung: Remadja Karya, 1987), hal. vii.
[2] Awalnya prima philosophia adalah sebutan Aristoteles untuk metafisika karena kemampuannya untuk menjelaskan segala sesuatu. Jadi ada semacam klaim kebenaran dalam metafisika, inilah yang membedakannya dengan Hermeneutika.
[3] Jean Grondin, Sejarah Hermeneutika, terj. Aziz Safa, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hal. 17
[4] Donny Gahral Adian, Pengantar Fenomenologi, (Depok: Koekoesan, 2012), hal. 45.
[5] Ibid., hal. 45-46.
[6] Ibid., Hal. 46
[7] Ibid., hal. 46-47
[8] Ibid., hal. 47.
[9] Prof, Dr. Kaelan, M.S., Filsafat Bahasa: Realitas Bahasa, Logika Bahasa, Hermeneutika dan Postmodernisme, (Yogyakarta: Paradigma, 2002, hal. 194.
[10] Loc.cit.
[11] Op.cit., hal. 48.
[12] Ibid., hal. 48-49.
[13] Ibid., hal 49.
[14] Kaelan, hal. 195.
[15] Kaelan, hal. 196.
[16] Kaelan, hal. 198.
[17] Kaelan, hal. 200.
[18] Kaelan, hal. 200.
[19] Kaelan, hal. 200-201.
[20] Kaelan, hal. 201.
[21] Kaelan, hal. 202-203.
[22] Kaelan, hal. 203.
[23] Kaelan, hal. 204-205.
[24] Kaelan, hal. 206.





KOTA Yogyakarta dan angkringan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Di kota bersejarah ini, angkringan ada hampir di setiap sudut jalan. Tak pelak, selain terkenal karena kebudayaannya yang masih lestari, angkringan menjadi ciri khas tersendiri dari Kota Ngayogyakarta.

Bagi pendatang dari daerah lain, angkringan membawa kesan yang unik. Meskipun di banyak daerah sudah ada angkringan, tapi tetap saja, angkringan Jogja memberikan sensasi yang benar-benar istimewa. Padahal kalau dilihat sekilas, sebagian besar menunya sama persis seperti nasi kucing dan aneka lauk pauknya.

Mungkinkah ada hal lain yang membuat angkringan jadi berbeda selain yang terlihat oleh mata? Mungkin sesekali saat kembali ke angkringan, sorot perhatian jangan hanya tertuju pada yang menu, melainkan justru kepada yang lainnya.

Faktor yang memberikan kesan berbeda di angkringan mungkin adalah penjaja angkringan-nya. Kita sebagai wisatawan, maupun penduduk asli Jogja sendiri sering lupa pada sosok penjaja angkringan. Selama ini obrolan mengenai pesona angkringan hanya muter-muter tak jauh dari soal murah meriah, selera kuliner, omset ekonomi, dan potensi pariwisata.

Padahal, angkringan tidak akan diketahui secara utuh saat hanya dilihat dari kacamata ekonomi maupun pendekatan lainnya yang tidak menempatkan manusia itu sendiri sebagai objek. Oleh karena itu realitas angkringan beserta ke-unikannya pun tidak akan tergali secara benar tanpa menghadirkan kacamata budaya.

Sekelumit Kisah

Suatu siang, saat ngangkring di daerah Sorowajan, seberang tempat ngopi Blandongan. Sebagai orang baru, tentu saya tidak banyak bicara pada penjaja angkringan. Tak disangka ternyata dia memancing obrolan. Dan setelah itu dia obrolannya makin deras. Keheranan juga muncul saat penjaja angkringan ini mempunyai wawasan yang luas. Dari mulai isu-isu daerah, dalam negeri hingga luar negeri.

Orang-orang Jogja memang sangat rakus melahap informasi, baik dari koran dan televisi. Tidak pandang kelas, dari mulai tukang sol sepatu sampai akademisi umumnya memang suka mencari informasi dari media-media. Hebatnya, dari semua cerita yang ddan informasi yang didapat tidak dibebaskan sama sekali dari filter tradisi.

Seperti saat penjaja angkringan menanggapi isu terorisme yang santer di daerah sekitaran Jogja: “Orang tuh ada-ada saja, kalau saya sih apa umumnya orang, tidak mau melakukan yang aneh-aneh”. Nah, yang-umum-dilakukan-orang inilah yang disebut budaya, tradisi dan tentu yang mengandung nilai-nilai di dalamnya. Nilai yang menjadi dasar bagi orang Jogja hidup dan berkehidupan.

Watak Orang Jogja

Sementara itu, kajian terdahulu banyak mengatakan bahwa Orang Jawa, termasuk Jogja memiliki perangai yang ramah, sopan dan halus. Hal ini bisa dilihat misalnya dari cara mereka berinteraksi dengan orang lain. Mengajak bicara orang lain (yang baru dikenal sekalipun) bagi mereka adalah bagian dari kesopanan dan keramahan.

Ditambah lagi, Bahasa Jawa sebagai alat komunikasi dalam interaksi tersebut memiliki aturan yang menjaga betul nilai-nilai kesopanan. Maka tak heran bila dalam Bahasa Jawa dikenal beberapa strata. Hanya saja, sikap hati-hati ini mungkin akan mengakibatkan orang Jogja tidak suka berterus terang. Yang pasti, semua sikap ini bersumber pada keyakinan terdalam orang Jogja pada kosmologi. Kosmos sebagai realitas kehidupan (baik makro maupun mikro) harus selalu terjalin harmoni.

Hasil kajian terdahulu diatas memberikan sedikit gambaran, dan tentu harus diuji lagi karena pesatnya kemajuan teknologi dan pengaruh globalisasi. Apalagi, Jogja sekarang sudah sangat lidig, banyak sekali jejak-jejak tradisi mewarnai Jogja yang turut serta bersama para pendatang dari luar kota, dari suku yang berbeda.

Kembali lagi jika menarik Watak Orang Jogja ke realitas angkringan, entah kenapa penjaja ankringan tidak merasa tertarik untuk menjual dagangannya dengan harga yang sedikit mahal. Mereka berdagang kelihatan sama sekali tidak untuk menumpuk harta akan tetapi hanya untuk mencari penghidupan, makan hanya agar tetap bisa hidup.

Seperti yang tersurat dalam kata-kata bijak: Mlarat ora gegulat, sugih ora rerawat (miskin tidak membabi-buta mencari uang, kaya tidak menumpuk harta). Karena hakikatnya ning dunyo cuman mampir ngombe (hidup di dunia hanya mampir sejenak untuk minum).



Sumber foto: https://www.dimasaka.terdidik.com


PADA sekitar tahun 80-an, mendiang Gus Dur menjadi ketua IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dan menjadi ketua dewan juri Festival Film Nasional. Orang-orang NU dan pesantren pada waktu itu menyindir Gus Dur sebagai ‘Kyai Ludruk’ atau ‘Kyai Ketoprak’. Di mata mereka seorang kyai tidak seharusnya menjadi pelaku seni, karena dua hal itu sangat berlawanan, mungkin seperti hitam dan putih.

Jika ditelisik dari kacamata sejarah, Islam dan seni, utamanya seni tradisi pernah mengalami masa suram. Tepatnya pada tahun 1960-an seluruh kamunitas kesenian rakyat mayoritas direkrut dibawah payung Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Demi kepentingan politik partai (PKI), lembaga bawahan PKI (Partai Komunisme Indonesia) ini sangat militan untuk mengambil hati komunitas seni tradisi. Pada masa orde baru, jaringan komunitas seniman tradisi di bawah Lekra ikut mendapat stigma: bagian dari partai PKI. 

Hingga akhirnya komunitas seniman tradisi terpuruk dalam stigma ‘seniman tradisi itu identik dengan komunisme, atheis, alias tidak beragama. Rangkaian sejarah ini dengan sangat terang diilustrasikan oleh Ahmad Tohari dalam triloginya: ‘Ronggeng Dukuh Paruk’.

Stigma-stigma ini efektif untuk mengucilkan komunitas seni tradisi dari seluruh elemen dan kelompok masyarakat, tak terkecuali kaum santri. Santri yang sejak zaman para wali merupakan kelompok yang selalu dekat dengan seni tradisi, pada akhirnya terpisah dari kesenian lokal.  

Pada tahun 1970-an, seniman mulai bangkit dari stigma tentunya dengan tanpa turut serta dari saudaranya, santri. Dan santri pun bangkit dalam konteks kehidupan bernegaranya dengan tanpa peduli tradisi otentik yang berasal dari seni tradisi. Jadilah seni tradisi hanya membuat tempelan yang sepertinya agamis. Praktisi seni memasukkan bacaan-bacaan seperti syahadat, tasbih, ayat-ayat dan bacaan-bacaan lainnya sebagai cara 'berdamai' dengan masyarakat yang sudah ter-Islamisasi. 

Meskipun dalam praktiknya, seni tradisi tersebut tetap menggunakan struktur pagelaran warisan budaya pra-Islam, jadi saat seni tradisi dengan tempelan Islam ini pentas, pertunjukkannya terasa aneh.

Hal yang persis sama anehnya terjadi di kaum santri. Saat komunitas seni terkena stigma politik bahwa dia itu komunis-atheis, santri dan kaum pesantren segera mengambil jarak. Apalagi saat santri merasa kebakaran jenggot saat cakar Lekra semakin agresif menggenggam seni tradisi, hingga pada puncaknya, santri membuat Lesbumi (Lembaga Seni dan Budaya Muslim) sebagai antitesa Lekra. Saat Lekra bubar seiring dengan dilarangnya PKI oleh Soeharto, Lesbumi pun seakan bubar nasional.

Mungkin habisnya umur Lesbumi dimaklumi karena tugasnya sudah selesai sebagai penangkal agresifitas Lekra. Tapi adakah para pendiri Lesbumi dan kaum santri saat ini mengerti bahwa mengambil jarak terhadap seni tradisi berarti sama saja dengan melupakan cermin dari kristalisasi nilai-nilai otentik diri?

Saat Islam Pesantren mengambil sikap di tengah kehidupan berbangsa, dia mengambil tradisi sebagai ideologi atas segala ideologi: “menjaga tradisi yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik”. Tapi sikap ini akan sangat bertentangan saat Pesantren terkesan jauh dari seni tradisi. Di belakang itu semua, sebenarnya kaum santri sedang merenda ideologi tradisi yang cacat.

Makna Tradisi

Orang kebanyakan melihat seni tradisi sebagai ajang tontonan, yang lain mengatakan seni tradisi adalah artefak, dan yang lainnya lagi seni tradisi adalah benda mati, barang usang peninggalan masa lalu. Tidak ada gunanya menggeluti dan melirik seni tradisi, meski sesaat. Seni tradisi hanya pantas untuk dinikmati oleh orang-orang tua yang tidak mengerti perubahan zaman.

Padahal jika kita lihat, banyak sekali orang-orang dari luar negeri yang menggeluti seni tradisi. Seperti yang terjadi di Cirebon, Matthew Isac Cohen menggeluti seni tradisi setempat. Penulis pun menyaksikan langsung saat dia men-dalang wayang cepak dengan lakon Sutajaya di Desa Pekandangan, Indramayu, 1 januari 2013. Mathew dan orang-orang di Barat terutama, sangat sadar bahwa peradaban yang besar mempunyai konfigurasi dari nilai-nilai tradisi yang otentik. Peradaban yang besar selalu harus berangkat dari nilai-nilai diri sendiri, bukan cangkokan, bukan hasil impor.

Sampai di sini kiranya dapat dimengerti bahwa seni tradisi adalah kristalisasi budaya, dan budaya selalu adalah kristalisasi dari cipta rasa dan karsa manusia. Menggeluti seni tradisi berarti juga menggeluti kristal-kristal penuh makna yang menjadi simbol dan tanda kehidupan dan seluruh pranata nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. 

Kalau diibaratkan citra, seni tradisi adalah citra dari diri kita dalam ruang hidup dan berkehidupan dalam habitus tertentu.

Menggeluti seni tradisi berarti juga menemukan diri sendiri yang berada dan hidup serta dalam ruang dan waktu tertentu. Tidak ada manusia hidup dalam dirinya yang otentik tanpa melihat dalam dunia macam apa dia hidup. Nilai, tradisi dan pranata budaya macam apa dia hidup dan berkehidupan.

Jadi, menggeluti seni adalah kegiatan mengenali diri, bercermin. Melihat diri sendiri melalui kaca ‘seni tradisi’ karena dari seni tradisi kita bisa melihat gambaran diri seutuhnya. Tentu dengan kelebihan dan kekurangannya, kita masih akan tetap tersenyum. Meskipun bentuk wajah kita tidak rata, kulitnya tidak putih, hidungnya pesek, muka coreng-moreng, akan tetapi kita bisa tetap tersenyum dan yakin karena yang cemong itu diri kita sendiri, bukan orang lain dan sedikit pun tidak pernah terbersit akan ada keinginan menjadi yang liyan.

Melihat berbagai fakta dan refleksi di atas, semoga ke depan tidak akan ada lagi pandangan miring satu sama lain antara santri dan komunitas seni tradisi. Karena pada hakikatnya kedua entitas ini sama-sama menjunjung tinggi tradisi sebagai elan vital dalam kehidupan. 



Dimuat di harian Fajar Cirebon 06 April 2013


Dalam Islam ada kalimat yang sangat familiar, hubbul wathon minal iman, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Kalau diingat, jargon tersebut dipopulerkan ulama pesantren yang mengartikulasikan terma wathon dengan sangat lincah. Lihat pula bagaimana pada tahun 1914 Kiayi Wahab Chasbullah dan Kiai Mas Mansur mendirikan organisasi pendidikan dan dakwah dengan nama Nahdhatul Wathon. Hal ini membuktikan bahwa kesadaran kebangsaan sudah ada dan jauh meresap dalam jiwa orang-orang Islam di pesantren. Jauh sekali sebelum kelompok konservatif-skripturalis kembali menggugat wathon dengan konsep keberagamannya satu dekade terakhir ini.


BERITA kematian Hugo Chavez, Presiden Venezuela menjadi headline dunia, tidak terkecuali Indonesia. Banyak pelajaran berharga dari sosok ini, diantaranya adalah bagaimana rakyat harus menjadi tujuan dari penyelenggaraan suatu negara.

Sebelum berita kematiannya, nama Chavez seringkali muncul di media massa baik cetak maupun elektronik. Pemberitaan di media-media tersebut tidak jauh dari seputar sepak terjangnya yang ditemui pada sosok pemimpin sebuah negara.

Chavez bukan sekadar presiden bagi rakyat Venezuela, akan tetapi dia juga sumber inspirasi bagi seluruh dunia. Sikap politiknya membuat banyak orang tersadar bahwa cengkraman neo-liberalisme sudah sangat menghujam kuat ke dalam urat nadi negara-negara dunia. Chavez menganggap negara dari Eropa dan Amerika Serikat menggunakan kapitalisme dan neo-liberalisme untuk menghegemoni negara-negara lain, utamanya negara berkembang.

Orang kebanyakan menyebut dia sebagai seorang sosialis karena penolakannya yang tegas terhadap kapitalisme. Tapi sebenarnya, bagi rakyatnya Chavez tidak menerapkan sosialisme dalam artian yang telah dipahami oleh banyak orang. Chavez tidak menggunakan sosialisme murni, akan tetapi sosialisme yang telah dimodifikasi sesuai dengan jiwa rakyat Venezuela. Sosialisme yang diterapkannya tak lain merupakan populisme, yakni gaya memerintah dengan selalu mengambil kebijakan atas dasar pemihakan terhadap rakyat lemah Venezuela.

Dalam pimpinan Chavez, rakyat Venezuela termasuk masyarakat awamnya diwajibakn untuk mempunyai buku panduan konstitusi negara. Buku ini dimaksudkan agar semua rakyat negaranya memahami benar hak mereka sebagai warga negara. Seringkali dalam kunjungannya ke daerah-daerah pelosok negeri, Chavez menanyakan langsung kepada warga, “apakah anda tahu hak anda dalam konstitusi?”, “apakah anda tahu apa saja konstitusi kita?”, dan pertanyaan-pertanyaan senada.

Chavez menghapus stigma negatif bahwa sosialisme itu lekat dengan otoriter, totaliterianisme. Bahkan lebih dari itu, pemerintahan Venezuela di bawah Chavez meletakkan demokrasi dalam arti yang sebenarnya. Demokrasi bukan dalam artian hanya sebagai seperangkat sistem prosedural semata, akan tetapi demokrasi benar-benar pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Pemihakannya terhadap rakyat bukan tanpa resiko dan perlawanan. Musuh terbesar Chavez tentu saja adalah para pemilik modal, para kapital, baik dari luar negeri maupun dari dalam negeri. Akan tetapi, pengalamannya di militer membuat Chavez lihai memainkan strategi meredam orang-orang yang tidak sepakat dengan keyakinannya.

Gelombang Merah Muda 

Sikap presiden Chavez tidak berdisi sendiri dalam ruang hampa. Dia banyak terpengaruh dari gerakan penolakan negara-negara Amerika Latin terhadap agresifitas Eropa dan Amerika Serikat. Geliat penolakan ini bergerak di berbagai sektor kehidupan sebelum akhirnya merembet ke wilayah politik.

Terinspirasi dari seorang tokoh Simone Bolivar, Chavez secara istiqomah terus menggelorakan revolusi di Venezuela, Revolusi “Bolivar”ian-isme. Di tangan dia, Venezuela mengambil alih kepemilikan perusahan pengelola minyak di negaranya. Chavez mengerti bahwa dengan cadangan minyaknya revolusi di Venezuela bisa lancar. Dengan minyak Venezuela bisa bernegosiasi dan memberikan kedudukan yang sejajar dalam perdebatan ideologi dan sistem penyelenggaraan negara. 

Chavez pun rajin menjalin hubungan dekat dengan pemimpin negara-negara yang sama, menolak neo-liberalisme dan kapitalisme. Dia amat dekat dengan Ahmadinejad, kedekatan ini tergambar saat Ibunda Chavez memeluk erat presiden Iran itu saat pemakaman jenazah Chavez. Chavez juga dekat dengan Fidel Castro yang kemudian diteruskan kepada Raul Castro di Kuba.

Selain itu, Chavez juga bersekutu padu dengan Evo Morales di Bolivia, Rafael Correa di Ekuador, dan Daniel Ortega di Nikaragua. Negara-negara Amerika Latin ini bergerak dalam satu koridor yang disebut pink tide (gelombang merah muda). Semua negara yang menjain hubungan dengan Chavez mempunyai sikap yang sama dalam menyikapi situasi politik dunia. Mereka lebih memilih untuk berdaulat atas tanah dan airnya sendiri, berjalan dengan kakinya sendiri, meskipun harus tertatih-tatih, daripada harus rela tunduk pada sistem manipulasi hutang dan pelipatgandaan modal.

Pasca Chavez

Kematian Chavez sontak membuat berbagai kalangan bertanya-tanya bagaimana kelanjutan drama sosialisme ala Chavez. Bagaiamana pula nasib rakyat Venezuela? Tentu kita akan menunggu perkembangan seanjutnya. Akan tetapi sudah banyak skenario tentang masa depan Venezuela yang diperkirakan oleh banyak orang.

Skenario pertama, Venezuela pasca Chavez akan membuat rakyat kembali dibawa pada sistem kapitalis. Chavez menurut banyak ahli, sangat mengandalkan ketokohannya dalam menyebarkan paham sosialisme. Saat dia belum selesai merubah ideologi Veneuela, dia meninggal dan akan membuat banyak penentangnya untuk berusaha kembali merebut hati rakyat Venezuela, meski berdarah-darah. Kebalikannya, skenario kedua memperkirakan sosialisme dan gerakan anti neo-liberalisme yang sudah ditanamkan Chavez akan bertahan lama.

Akan tetapi, masa depan selalu lebih abu-abu dari prediksi analitik semata. Akan lebih banyak kemungkinan tentang masa depan sosialisme di Venezuela pasca Chavez. Akan tetapi, Wakil Presiden Venezuela Nicolas Maduro membuat kemungkinan terjadinya skenario kedua semakin besar. Seperti yang diketahui, Presiden Chavez pernah menginginkan Maduro menggantikan posisinya nanti jika dia tidak mampu lagi menjadi presiden. Akan tetapi jangan lupakan Henrique Capriles, Pemimpin partai oposisi Venezuela. Keduanya akan bertarung dan menentukan nasib rakyat Venezuela dan mewarnai pertarungan ideologi politik dunia 14 April mendatang.

Terakhir, apapun yang terjadi, Chavez bagi orang Indonesia bukan siapa-siapa, dia juga manusia biasa. Tapi tidak ada salah sedikit pun jika kita mengambil pelajaran dari sosok ini dan peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Setidaknya kita bisa mendapatkan contoh sikap yang bulat untuk melindungi kedaulatan rakyatnya. Semoga Indonesia bisa terlepas bebas dari jerat Neo-liberalisme dan Kapitalisme atau apapun yang mengancam kedaulatan rakyat negeri ini. Wallahu a’lamu. 


foto: www.malensia.com