PADA Hari Jadi yang ke-646 Cirebon, Kota Cirebon mengusung tagline yang cukup menarik “Cirebon Kota Sedulur Kabeh”. Jika kita cari padanan katanya dalam bahasa Indonesia, kata sedulur kurang lebih mempunyai makna yang sepadan dengan kata “kerabat” atau “keluarga”, sehingga dari tagline itu kita bisa mengambil pengertian bahwa Cirebon mencitrakan diri sebagai sebuah daerah (kota) bagi semua masyarakat yang mempunyai hubungan darah atau hubungan budaya dengan Cirebon.

Meskipun demikian, dari tagline tersebut juga bisa diartikan bahwa Cirebon merupakan sebuah tempat yang terbuka bagi semua orang. Semua orang yang datang ke Cirebon, dari manapun asal daerahnya, akan disambut dengan tangan terbuka dan dianggap sebagai bagian dari keluarga. Pemaknaan ini dirasa lebih tepat karena inilah yang menunjukkan identitas Cirebon sebagai daerah yang dihuni oleh masyarakat yang beragam, sejak daerah ini pertama kali terbentuk.

Pangeran Arya Cerbon dalam Purwaka Caruban Nagari dengan jelas mengatakan ihwal keragaman tersebut. Sejak awalnya, Cirebon memang dikenal sebagai daerah yang dihuni oleh masyarakat dari berbagai daerah, mulai dari pribumi, orang Tiongkok, Arab, India dan sebagainya. Tak salah jika beliau menyebut Cirebon berasal dari kata caruban atau sarumban yang berarti campuran. Cirebon menjadi tempat bercampur dan bersatunya keragaman adat istiadat, agama dan daerah asal masyarakatnya.

Keragaman tersebut muncul sejak lahirnya Cirebon. Keragaman itu sendiri niscaya bagi Cirebon yang secara geografis berada di tepi laut. Letaknya itu membuat Cirebon masa lalu (saat transportasi masih menggunakan jalur laut) terbiasa menerima pendatang dari berbagai daerah. Cirebon kemudian tumbuh menjadi daerah transit dan daerah tujuan perdagangan internasional. 

Pelabuhan Muara Jati Cirebon pun menjadi pelabuhan yang ramai dikunjungi banyak orang dari berbagai daerah, dari Tingkok, Arab, Persia, India, Malaka, Tumasik, Pasai, Jawa Timur, Madura dan Palembang. Dengan wataknya yang terbiasa dengan keragaman tersebut, Cirebon pun tumbuh menjadi daerah terdepan dalam penyebaran agama Islam di Pesisir Utara Jawa bagian barat dan tentunya terus berkembang menjadi tempat bagi pemeluk agama Islam yang toleran.

Sejarah mencatat bahwa Syekh Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati, yang merupakan seorang penyebar agama Islam juga seorang wali, menikah dengan salah seorang putri asal Tiongkok, Putri Ong Tin yang memeluk agama yang berbeda. 

Dari catatan sejarah itu dapat diperoleh fakta bahwa Sunan Gunung Jati, sebagai pendiri dan pemimpin Cirebon, sudah sangat terbiasa hidup dan berkehidupan di tengah masyarakat yang beragam dan sama sekali tidak mempermasalahkan perbedaan yang melekat pada diri masyarakat.

Karakter masyarakat Cirebon yang plural itu pun ternyata masih tetap bertahan meski masyarakat sudah tidak menggunakan jalur laut. Sebab Cirebon masih menjadi kota transit dan menghubungkan antara daerah-daerah di Jawa dengan Ibu Kota Jakarta. Perubahan banyak hal dalam aspek kehidupan dari masa lalu ke masa sekarang bukannya semakin menipiskan karakter masyarakat Cirebon yang beragam itu malah justru semakin menguatkannya.

Ihwal keberagaman masyarakat Cirebon juga banyak ditemukan di banyak naskah kuno dan peninggalan benda-benda bersejarah serta benda arkeologis lainnya. Tapi yang paling tegas menyiratkan keragaman tersebut yakni Paksi Nagaliman. Paksi Nagaliman adalah sebuah kereta kencana yang berbentuk seekor hewan imaginatif. 

Hewan tersebut merupakan gabungan dari paksi (hewan bersayap seperti buroq) yang disebut orang-orang Cirebon sebagai representasi tradisi dan budaya Islam, naga yang merupakan representasi dari tradisi dan budaya Tiongkok serta liman (gajah) yang merupakan representasi dari tradisi dan budaya Hindu.

Tidak cukup sampai di situ, rupa-rupanya kesadaran keberagaman masyarakat Cirebon sudah sangat mendarah daging sehingga banyak sekali hasil-hasil kebudayaan yang mencerminkan akulturasi dari berbagai budaya dan agama. 

Contoh lainnya dari produk budaya masyarakat Cirebon itu yakni sega jamblang yang mempunyai lauk beraneka ragam dari berbagai kebudayaan. Nasi Jamblang juga menunjukkan pada kita betapa alam daerah pesisir ini amat kaya dan beragam.

Fenomena masyarakat Cirebon yang beragam itu pun ditangkap oleh banyak penulis dan peneliti sehingga menghasilkan banyak karya-karya yang diperhitungkan. Salah satunya yakni Pendeta Supriyatna yang sekarang menjadi Ketua Umum Majelis Sinode Gereja Kristen Pasundan (GKP) Bandung, Jawa Barat. 

Saat bertugas di Cirebon, dia menulis sebuah buku yang menggambarkan bagaimana perbedaan di antara masyarakat di Cirebon tidak menjadikannya masalah. Bukunya berjudul “Ziarah Makam Sunan Gunung Jati di Mata Orang Kristen Cirebon.”

Merawat Keragaman

Tagline yang sesuai dengan identitas Cirebon itu pun selayaknya tidak berhenti hanya pada tataran ucapan dan jargon belaka. Kesadaran terhadap berbagai macam perbedaan yang niscaya itu harus terus dirawat dan dijaga. Mengingat di zaman yang serba terhubung ini, sebagai informasi dan ideologi berseliweran tanpa tedeng aling-aling.

Setidaknya beberapa peristiwa yang bertolak belakang dengan semangat dan identitas Cirebon yang plural itu pernah terjadi dalam dasawarsa terakhir. Peristiwa seperti teror bom di Masjid Sang Cipta Rasa dan meledaknya bom di Masjid Adz-Dzikro Polres Kota Cirebon cukup membuat masyarakat Cirebon terkaget-kaget. 

Bahkan, beberapa peneliti dan pengamat terorisme di Indonesia cukup mempertimbangkan Cirebon sebagai zona merah radikalisme. Sebagai daerah yang rawan pemikiran dan tindakan yang tidak toleran dan tidak mencerminkan kesadaran masyarakat yang plural.

Salah seorang peneliti dari Wahid Institut (WI), Ahmad Suaedy, dalam salah satu seminar di Aula PCNU Kabupaten Cirebon mengatakan, gerakan radikalisme di Indonesia memang telah bertransformasi dari gerakan pusat menjadi gerakan yang menyebar ke daerah-daerah, termasuk Cirebon. 

Menariknya, Suaedy menawarkan tradisi lokal sebagai alternatif solusi untuk mencegah radikalisme masuk ke tengah masyarakat di daerah. Sebab menurutnya, pada dasarnya masyarakat Indonesia, termasuk Cirebon, mempunyai tradisi yang dialogis, toleran dan akulturatif.

Dengan demikian, sudah saatnya masyarakat Cirebon melakukan revitalisasi tradisi dan kearifan lokal yakni dengan menghidupkan dan memaknai kembali upacara-upacara kultural yang berjumlah puluhan dan saban tahun selalu dihelat. 

Cirebon harus mulai menggali nilai-nilai luhur yang terdapat dalam kehidupan masyarakat terdahulu untuk kemaslahatan sekarang. Nilai-nilai luhur keberagaman dalam budaya masa lalu Cirebon perlu segera digali baik dari naskah, artefak, heritage, folkore ataupun bentuk-bentuk kesenian seperti tari dan kidung.

Pengetahuan, nilai-nilai dan kearifan lokal Cirebon pun perlu segera diajarkan kepada masyarakat melalui sekolah-sekolah dan madrasah. Pengetahuan lokal perlu segera dimasukkan ke dalam kurikulum pembelajaran para siswa, santri dan mahasiswa. 

Hal itu dilakukan tidak lain untuk terus merawat Cirebon agar selamanya menjadi rumah bagi siapa saja, tanpa melihat suku, agama, bahasa, atau pun identitas manusia lainnya yang membuat mereka terkungkung dalam sekat individualnya.

Meskipun demikian, menggali, mendesiminasi maupun mengadopsi kearifan lokal dan nilai-nilai luhur dari kebudayaan terdahulu itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan pengetahuan yang mendalam dalam berbagai disiplin ilmu dan pengetahuan. Utamanya, harus ada iktikad baik dari semua pihak, terutama pemerintah untuk kemudian bahu-membahu dengan masyarakat. Wallahu a’lam bisshowab.***