Sumber ilustrasi: hate-speech.org
PADA zaman serba digital, ujaran kebencian (hate speech) dengan berbagai macam bentuknya seperti penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menyenangkan, provokasi, penghasutan ataupun penyebaran berita bohong meluncur dengan cepat. Sekali saja disebarkan, ribuan bahkan jutaan orang bisa terpengaruh. Ujaran kebencian melalui media sosial ataupun sebuah forum di internet tak pelak berpotensi sangat besar memicu konflik antar golongan.

Dulu, tidak semua orang bisa mengabarkan informasi ke orang lain secara massif. Manusia perlu waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun untuk menyampaikan informasi hanya ke satu orang. Kini, dengan semakin pesatnya teknologi, semua orang bisa menyampaikan informasi dengan cepat. Bukan hanya itu, informasi bisa disebarkan kepada jutaan orang.

Hal tersebut tentu menggembirakan karena kita jadi lebih efektif dan efisien dalam berkomunikasi dengan orang lain. Akan tetapi masalah muncul ketika informasi yang disebarkan tersebut memuat konten yang negatif. Pengguna media sosial pada umumnya tidak mempunyai kemampuan yang cukup untuk memfilter informasi yang datang kepadanya.

Mereka juga tidak mempunyai standar penyaringan informasi seperti verifikasi ala jurnalisme. Pengguna medsos menjadi sangat rentan menerima informasi yang tidak bertanggung jawab dan terprovoksi ikut dalam kebencian yang disebarkan. Contoh dampak buruknya seperti terjadinya konflik antar golongan di Sumbawa dan Lampung. Ya, konflik tersebut berawal (hanya) dari sebuah ujaran kebencian di media sosial atau forum di internet.

Pada Selasa, 30 Agustus 2016 kemarin beredar berita statemen Wakil Presiden Jusuf Kalla yang mengatakan bahwa medsos mempermudah seseorang melakukan provokasi kepada orang lain secara massal dalam waktu yang relatif singkat. Bahkan dia menyebutkan untuk memicu konflik, zaman sekarang seseorang tak perlu pemimpin, cukup dengan medsos saja.

"Orang berkonflik sekarang tanpa pemimpin, beda dengan dulu. Kalau sekarang yang memimpin adalah Facebook, WhatsApp, SMS dan lainnya" kata Wapres saat memberi ceramah kepada peserta Program Pendidikan Sespimti Polri Dikneg ke-25 TA 2016 bertema Kajian Strategi Penanganan Konflik Dalam Negeri di Jakarta, Senin (29/8).

Apa yang dikatakan Wapres ada benarnya, meski tidak sepenuhnya. Sebagai Wapres dia memang harus berupaya untuk mengokohkan jajaran pemerintah, terutama kepolisian untuk lebih awas terhadap ujaran-ujaran kebencian di dalam jagat internet. Untuk itu, petugas kepolisian dan jajaran terkait, menurutnya, diharuskan untuk mengetahui bahkan menguasai medsos dan internet.

Tapi, disadari atau tidak, medsos dan internet (media digital) bukan subjek dalam komunikasi, ia bukan subjek pengirim atau penerima informasi. Ia hanya media. Akan tetapi, karakteristik media ini berbeda dengan media komunikasi yang lainnya. 

Media digital yang muncul dalam masyarakat yang semakin demokratis dan egaliter ini bersifat lebih bebas. Semua pengguna media digital bisa mengirim dan menerima informasi dengan sama bebasnya. Berbeda dengan zaman terdahulu yang lebih cenderung menjadi penerima informasi.

Informasi banyak arah dan komunikasi yang bebas tak terasa mengikis secara perlahan formalitas dan birokrasi kebenaran. Akibatnya, tidak ada satu lembaga informasi pun yang lebih dipercaya dibanding yang lain. Semuanya sama. 

Terlepas dari positif atau negatif, sebuah informasi itu pada akhirnya bisa dibagikan banyak orang dan diterima banyak orang. Tanpa filter dari apapun atau saringan dari siapapun.

Pengokohan penegak hukum untuk menguasai media digital sendiri, seperti yang Wapres katakana, sepertinya tak lebih dari sebuah upaya memperkuat penindakan. Dalam zaman yang serba cepat ini upaya penindakan saja rasanya belumlah cukup. 

Kasus lain akan muncul saat kasus satunya sedang ditindak. Kasus-kasus baru yang terus bermunculan tidak akan pernah sangggup untuk ditindak satu per satu. Maka, yang lebih penting yakni mengupayakan tindakan pencegahan. 

Pemerintah sebenarnya bisa saja mengupayakan agar setiap anggota masyarakat mempunyai tanggung jawab sosial yang baru di zaman digital ini. Tanggung jawab sosial tersebut yakni pertama, mereka harus menyebarkan informasi secara bertanggung jawab; dan kedua, mereka dilatih untuk menerima informasi secara skeptis atau tidak mudah percaya dengan informasi.

Penerima informasi harus mempunyai sikap seperti para jurnalis yang tidak mudah menerima berita begitu saja. Perlu ada verifikasi atau informasi pembanding dari sudut yang berbeda. 

Dalam istilah Jasques Derrida, seorang filsfuf post-strukturalis asal Perancis, harus ada penundaan (epoche) pemaknaan dalam setiap informasi yang hadir dalam kehidupan kita. Epoche mewajibkan kita untuk maletakkan dulu segala jenis klaim kebenaran, ideologi ataupun fanatisme buta dalam setiap penilaian informasi.

Upaya menyadarkan adanya tanggung jawab yang besar kepada masyarakat sebagai penerima informasi lebih diutamakan karena jika masyarakat sudah menerima informasi secara bertanggung jawab, maka otomatis mereka juga akan menyebarkan informasi secara bertanggung jawab pula. Dan upaya tersebut bisa dimulai dari edukasi terus menerus dari semua lembaga pendidikan, formal maupun yang ada di tengah masyarakat. ***
MAGELUNG mengembara tak tentu arah. Tapi kakinya itu membawa dia berjalan ke arah barat laut dari tempat dia bertemu Sunan Gunung Jati. Langkah demi langkah dilewati hingga dia tiba di daerah yang disebut Selapandan. Semakin masuk ke perkampungan, dia menjumpai keramaian. Orang-orang berkumpul seperti sedang menyaksikan sebuah pertunjukkan. Ah, ternyata ada adu tanding digelar di tengah mereka.

Sayembara yang diikuti orang-orang sakti mandraguna dari berbagai daerah itu digelar oleh Ki Ageng Selapandan atau Mbah Kuwu Cirebon. Orang-orang sakti tersebut bertarung, beradu kesaktian dengan seorang perempuan ayu jelita, Nyi Mas Gandasari. Meskipun perempuan, dia tak terkalahkan dalam sayembara tersebut.

Nyi Mas Gandasari sering dikenal dengan nama Syarifah Muthmainnah, putri Syekh Datuk Soleh dari Kerajaan Pasai. Dia merupakan adik kandung Fadhilah Khan atau yang sering disebut Faletehan. Nyi Mas Gandasari konon dibawa serta Mbah Kuwu Cirebon saat dia pulang dari berhaji.

Gandasari diboyong dari Pasai ke Cirebon untuk menyelamatkannya dari sebuah wabah yang berbahaya di daerah asalnya. Setelah diajak menetap di Cirebon, Gandasari kemudian dididik oleh Mbah Kuwu Cirebon sehingga memiliki kemahiran beladiri yang tak tertandingi. Selain memiliki kemahiran ilmu bela diri, Gandasari diceritakan sebagai perempuan yang cantik jelita, rupawan, molek dan lincah laiknya Srikandi dalam lakon pewayangan.

Mbah Kuwu Cirebon juga mendidik Gandasari dengan ajaran agama Islam dengan mengirimnya ke Pesantren Syekh Quro di Karawang. Dari pesantren yang berada di Karawanglah kemudian berita tentang kecantikan Gandasari menjadi perbincangan orang-orang dari berbagai daerah. Banyak orang terutama para pembesar dari negeri seberang akhirnya ingin menikahi perempuan yang mempunyai keunggulan kanuragan, agama dan ayu itu.

Dalam sayembara, tersebut satu aturan siapapun yang bisa mengalahkan Gandasari akan dijadikan sebagai suaminya. Namun sayang, nyatanya tidak ada satu pun orang yang bisa mengalahkannya. Setelah semua pembesar (gegeden) tidak ada yang bisa mengalahkan Gandasari, Magelung yang terpesona oleh Gandasari pun turut serta dalam sayembara. Setelah melalui pertandingan yang sengit, akhirnya Magelung mampu mengalahkan Gandasari. 

Namun entah mengapa, mengetahui ada orang yang bisa mengalahkannya, Gandasari seketika itu juga lari tunggang langgang, kemudian minta perlindungan ke arah daerah Gunung Jati. Melihat Gandasari berlari, Magelung pun mengejarnya. Sesampainya di daerah Gunung Jati, Gandasari menjumpai Sunan Gunung Jati, dia pun bermaksud berlindung kepada Sang Sunan dari kejaran Magelung.

Magelung pun terkejut kembali bertemu dengan orang tua yang bisa memotong rambutnya. Magelung pun seolah lupa dengan tujuan awalnya datang ke Tanah Jawa. Saat ditanya Sunan, dia menjawab ingin memperistri Gandasari. Dia merasa berhak mendapatkan Gandasari karena hanya dia yang bisa mengalahkan Nyi Mas Gandasari. Dan aturan sayembara menyebutkan bahwa yang menang atas Gandasarilah yang berhak mengawininya.

Magelung benar-benar lupa tujuannya datang dari tanah seberang menuju Tanah Jawa. Saat sosok guru sebagai tujuannya itu sudah berdiri di depannya, dia malah menginginkan seorang ayu jelita yang baru saja dikenalnya.

Tapi Sang Sunan begitu bijaksana, dia pun mempersilakan keduanya untuk menikah. Akan tetapi beliau berujar bahwa pernikahan yang patut bagi kedunya bukan pernikahan di dunia yang fana, melainkan pernikahan abadi di akhirat. Kedua insan manusia itu akhirnya mengerti yang dimaksud Sunan dan menerima keputusannya. Magelung dan Gandasari menjadi suami istri tanpa melakukan hubungan jasmani.

Magelung dan Gandasari akhirnya menjadi murid Sunan Gunung Jati dan turut serta dalam upaya penyebaran ajaran agama Islam di Cirebon. Catatan juga menyebutkan keduanya memiliki peranan penting dalam penaklukan Rajagaluh dan Talaga oleh Cirebon.

Pada masa selanjutnya, Magelung menetap di sebuah daerah yang dipenuhi belantara. Di daerah tersebut banyak tumbuh pohon Kendal. Di daerah yang kita kenal sekarang sebagai Desa Karangkendal itu, Magelung mengajarkan ajaran Islam kepada para murid-muridnya. Sebagai seorang yang mengajarkan agama Islam, masyarakat kemudian menyematkan gelar ‘Syekh’ kepada Magelung hingga dia dikenal dengan nama Syekh Magelung.

Sementara Gandasari dikenal dengan gelar kehormatan Nyi Mas. Sambil terus belajar dan berjuang menyebarkan Islam di Cirebon, Nyi Mas Gandasari mendiami daerah Selapandan yang sekarang dikenal sebagai Desa Panguragan.*** (bersambung)
Ilustrasi: arbamedia.com
MEMBACA koran hari itu mengingatkan kejadian yang membuatku pilu. Kejadian yang menimbulkan sesal dan keprihatinan mendalam. Waktu itu, tetangga depan rumahku bekerja sebagai tenaga kerja luar negeri di Arab Saudi. Dia adalah Wati, seorang istri bagi suaminya dan ibu bagi kedua anaknya. Wati menyerahkan sepenuhnya segala urusan rumah tangga kepada suaminya, Dasman, selagi dia pergi ke tanah rantau mencari duit untuk keberlangsungan hidup dan kehormatan keluarganya.

Tiba pada suatu hari, Wati pulang setelah beberapa lama bekerja di luar negeri. Dia pun disambut begitu hangat oleh keluarganya dan para tetangganya. Aku ingat betul, waktu itu aku pun ikut larut dalam kebahagiaan menyambut pahlawan devisa, tetangga depan rumahku itu.

Aku ingat sekali Wati, tetanggaku itu. Aku kenal dia sejak kecil. Dia perempuan yang gesit dan lincah. Meskipun dia tidak pintar karena tidak sekolah, tapi dia ringan tangan. Sejak kecil dia tidak pernah menolak setiap disuruh orang tua, uwak, pamannya ataupun orang tua yang bukan keluarganya. Tiap kali dia disuruh bapa tua-nya membelikan klobot, dia berangkat ke warung sambil menari dan menyanyi dengan lirik keceriaan. 

Hal ituah yang kemudian membuat Dasman kesengsem. Pemuda pendiam yang berambut gimbal tersebut sejak kecil terlihat selalu ingin bermain bersama Wati. Melihat kelincahan perempuan itu, hati Dasman berbunga-bunga. Meskipun cukup dengan memandanginya saja.

Dasman selalu senang jika bermain gerobak sodor bersama Wati. Karena dia bisa menangkap perempuan pujaannya itu dengan mesra. Dasman juga senang bermain petak umpet dengan Wati. Dia selalu berkorban dengan berpura-pura kalah dan terus mengalah. Dia senang meski digencret, asalkan Wati senang. 

Tapi dari semua permainan sewaktu kecil, saya tahu betul bahwa Dasman sangat bahagia bila dia bermain raja-rajaan. Dia menjadi raja dan Wati menjadi ratunya. Keduanya bermahkotakan tiara dari daun pohon nangka yang sudah kering. Keduanya duduk dalam singgasana tanah dan kembang kingkong yang berwarna-warni pun bertaburan. Aku tahu itu, karena Dasman selalu cerita padaku setiap dia selesai bermain dengan Wati.

Sialnya, cinta Dasman yang tumbuh subur hingga dewasa itu tidak disetujui orang tua Wati. Saat Dasman memberanikan diri melamar Wati, orang tua Wati menolak. Alasannya, keluarga Dasman miskin. Calon suami Wati harus orang kota yang kaya. Orang yang karena kekayaannya mampu untuk mengangkat kehormatan keluarganya yang miskin. Kalau menikah dengan Dasman yang miskin, tentu saja tidak merubah apa-apa. 

Mama dan mimi-nya Wati selalu mengkhawatirkan anaknya itu berkubang dalam kemiskinan yang telah lama mereka dan hampir semua warga di kampungnya alami. Dasman pun boleh kembali lagi melamar Wati setelah dia bisa membawa lamaran yang cukup lumayan untuk mengangkat kehormatan keluarga Wati di depan orang-orang kampung.

“Kehormatan sialan! Dari mana saya dapatkan uang sebanyak itu?” kecam Dasman hari itu.

Tapi kedua orang tua Wati toh akhirnya luluh juga. Raja Dasman dan Ratu Wati itu pun akhirnya menikah setelah Wati diketahui keluarganya hamil di luar nikah. Pria kota yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab. Laki-laki yang dikenalnya di pasar itu bukan orang baik-baik. Dia mengajak Wati menginap di salah satu hotel melati di pinggir Stasiun Cirebon. 

Wati yang sepanjang hidupnya tinggal dan bermain di kampung itu pun tidak merasa curiga. Bahkan dia merasa bangga dan berencana akan menceritakan pengalaman pertamanya menginap di hotel yang bagaikan istana itu kepada semua teman-teman di kampungnya. Wati yakin, teman-temannya itu akan berdecak kagum dengan ceritanya.

Tapi, rencana Wati itu tak pernah terwujud. Cerita indah tentang hotel dan istana itu tak pernah keluar dari mulutnya yang ranum. Sejak kejadian di  hotel itu, dia hanya diam membisu. Sepanjang hari dia hanya melamun dan tak ada satupun orang yang bisa mengajaknya bicara, kecuali Dasman yang dari kecil mencintainya. Meskipun keperawanannya sudah terenggut, Dasman tetap cinta pada wanita gesit yang telah hilang kelincahannya itu.

“Aku sudah terlanjur cinta,” kata Dasman waktu itu.

Keduanya pun akhirnya menikah dengan cara yang sederhana. Pernikahan itu dilangsungkan hanya untuk memenuhi syarat agama saja. Ada penghulu, dua mempelai dan dua orang saksi. Tidak ada resepsi, tidak ada perayaan, tidak ada organ dangdut ataupun masres. Tidak ada undangan ataupun ulem-ulem

Dasman pun datang seorang diri, saudara, uwak, paman dan bibinya tidak sudi hadir lantaran sakit hati yang tak kunjung sembuh saat lamaran Dasman ditolak keluarga Wati. Penolakan lamaran yang menurut saudara-saudaranya membuat Ibunya yang sudah renta meninggal dunia. Aku tahu, malam sebelum menikah, Dasman bertengkar hebat dengan keluarganya. 

Tapi itulah Dasman yang pendiam, dia selalu mengagumi pujaan hatinya itu. Tak peduli rintangan menghadang.

***

Kehangatan tetangga depan rumahku itu tak bertahan lama. Di rumah yang kemarin baru saja sumringah, tiba-tiba membuncah seperti letusan lava yang bergulung-gulung lengkap bersama wedus gembelnya. Dasman menghardik istrinya yang dinikahinya dengan penuh Cinta dan pengorbanan. Suaranya kencang sekali, bergetar penuh tenaga. Energinya yang besar memancing para warga kampung untuk mencari dimana suara itu berasal.

Ya ampun, masalah apa yang membuat Dasman yang pendiam itu membuncahkan amarah sebegitu rupa?” kataku membatin.

Tidak cukup menghardik, di dalam rumahnya, terdengar cuara kaca dan piring pecah. Suara pecahan satu dengan yang kedua kemudian yang ketiga dan seterusnya tak berselang lama. Disusul dengan jeritan seorang wanita, raungan, geraman dan tangisan anak-anak kecil yang meledak tanpa komando.

Masyarakat yang sedari tadi berkumpul mengerubuti rumah tetangga depan rumahku itu bergumam satu dengan yang lainnya. Aku pun ikut mendekat dan bersatu dengan kerumunan warga. Para orang tua dari tadi bergumam lirih bahwa mereka perlu masuk ke dalam rumah tersebut untuk menyelamatkan wanita malang itu dari amarah suaminya. 

Ada pula suara yang menginginkan agar kedua anaknya itu diselamatkan dari derita nestapa keluarganya. Tapi semuanya hanya dalam gumaman, rasa iba itu ada dalam suara tipis dari bibir yang gemetar. Mereka sejatinya hanya penasaran, bukan berempati.
Sejurus kemudian, jeritan dari wanita malang itu pun semakin melengking. Suaranya meraung-raung yang diikuti tangisan keras anak-anaknya.

“Toloong, tolonggg...!,” suara perempuan malang itu disusul kemudian dengan suara kulit beradu. ”Puk,,, puk,, puk. Rasakan kau!”

Warga pun berduyun-duyun hendak masuk ke dalam rumah. Tapi sekejap ada suara tegas yang menghentikan langkah mereka. Salah satu warga yang berucap paling keras dibanding lainnya. Sepertinya dia sengaja mengeraskan suaranya agar didengar warga yang lain.

“Ah, itu biasa. Itu urusan rumah tangga mereka. Kita tidak boleh ikut campur urusan dapur orang lain. Hayo siapa yang berani masuk nanti tanggung urusannya sendiri, tanggung getahnya sendiri,” katanya sambil memicingkan matanya.

Entah mengapa, diri seperti setuju. Dan saya pun tidak sendirian, warga juga seolah setuju. Kita tidak berhak mencampuri urusan orang lain.

Dalam hening sesaat, tiba-tiba pintu rumah yang penghuninya sedang bertengkar itu terbuka. Seorang wanita lari tunggang langgang sekarat kadal. Tak jelas kemana dia akan menuju. Tak berapa lama suaminya keluar. Dengan muka merah hitam, dia berujar dengan penuh kebengisan.

“Wanita jalang tidak tahu malu. Jangan kembali lagi ke sini,” katanya dengan penuh emosi dan langsung sejurus kemudian menutup pintu keras-keras hingga menimbulkan suara yang menyakitkan telinga.

Malam itu, setelah pintu ditutup, ratusan warga yang sedari tadi menonton bubar dengan sendirinya. Mungkin karena hari juga sudah larut malam, ataukah mereka kembali pada kursi empuk mereka dan menyaksikan tayangan televisi kesayangan mereka.

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Ada gundah dalam hati. Malam itu, tangisan pilu kedua anak-anak tetangga depan rumahku setia menemani kegelisahan hatiku.

“Kenapa aku diam saja?? 

Seorang mengejar istrinya dan warga hanya diam saja. Wanita itu menjerit, tapi masyarkat hanya terpukau, setelah itu mereka diam saja. Apa yang dilihatnya itu bagaikan tontonan di layar kaca. Sinetron itu menjadi nyata di depan mata. Sinetron yang selalu enak ditonton dan menggelorakan emosi. Saat sinetron itu hadir di depan mata, dia tetap sinetron. Meskipun sebenarnya itu nyata, kejadian sebenarnya.

Besoknya, gonjang-gunjing di tengah masyarakat pun semakin ramai saja. Gosip itu menuduh Wati mengandung anak ketiga, tapi jelas bukan anak dari Dasman. Bagaimana mungkin Dasman mempunyai anak sementara dia sudah terpisah dengan istrinya itu lima tahun lamanya. 

Dasman mengurusi kedua anaknya di kampung sambil bekerja serabutan sebagai buruh tani maupun tukang bangunan. Sementara Wati bekerja di Arab Saudi sebagai babu. Anak ketiga Wati tak lain adalah hasil yang tak diharapkan.

Raja dan ratu itu pun sekarang hidup terpisah. Dasman tak pernah mau menerima lagi Wati, meski cintanya tak pernah luntur. Kasihnya kepada Wati tumpah dan hanya dia curahkan untuk kedua anak Wati. Tidak untuk anak ketiganya yang masih berada di dalam kandungan. Sebulan kemudian, Wati ditemukan gantung diri di dapur rumah orang tuanya. Dasman pun masih tetap dingin dan menolak datang saat pemakaman istri yang tidak pernah dia ceraikan itu.

Lama setelah kejadian bunuh diri Wati dan kemurungan Dasman, banyak sekali raja dan ratu di pantura Cirebon yang cerita cintanya hancur gara-gara bekerja menjadi babu di luar negeri. Cukup kiranya Dasman dan Wati saja yang menjadi korban negara yang abai terhadap kesejahteraan masyarakatnya. Kalau di dalam negeri mereka bisa bekerja, tidak seharusnya pergi menjadi babu, mengorbankan biduk rumah tanggadan membuat anak-anak tumbuh tanpa kasih.***
Cover majalah Tempo terbitan tahun 1983.
BUKAN bermaksud sombong, tapi bolehlah cerita kalau saya termasuk ke dalam orang yang suka membaca buku, mencari informasi dan senang berdiskusi. Paling tidak itulah selintas yang sering diceritakan kawan seperjuangan. Tapi segala itu, seolah tak ada artinya saat duduk-duduk di jondol bersama-sama orang kampung di desa saya.  

Bagaimana tidak, saya yang selama bertahun-tahun sekolah dan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dari orang-orang kampung ternyata tak tahu apa-apa tentang peristiwa yang begitu membahana. Peristiwa di kampungku sendiri, di dekatku, bahkan sangat dekat. Mereka sering menyebut peristiwa itu dengan nama Petrus. Perlu hidup 25 tahun bagi saya untuk sekadar mendengar riwayat peristiwa keji itu.

Di Desa Kertasura Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon, tepatnya di Blok II Siwalan ada sebuah jondol. Jondol adalah semacam balai persegi yang ditopang empat buah tiang dari kayu dolog atau bisa juga bambu besar. Jondol dibuat seperti rumah panggung dengan dindingnya tertutup setengah dan di salah satu dindingnya terbuka, dimaksudkan untuk pintu. Kadang, keempat sisi jondol dibuat terbuka semua, agar siapapun bisa leluasa masuk. Sementara lantainya terbuat dari bilah bambu ataupun papan kayu.

Pembuatan jondol dimaksudkan sebagai tempat berkumpulnya anak-anak muda dan masyarakat kampung. Tempat berkumpul ini dibangun sederhana dengan hanya atap genteng ataupun asbes saja. Dulu, saat ramai program siskamling, jondol selalu ramai. Sekarang, meskipun tidak seperti dulu, jondol masih menjadi tempat berkumpul warga.

Setiap habis Isya, warga senang sekali berkumpul di jondol dan membicarakan banyak hal. Jondol yang ramai biasanya di sampingnya berdiri warung kopi, warung tebruk atau warung indomie. Di situ, segala masalah diperbincangkan, dari mulai masalah pertanian, ekonomi, politik hingga gosip-gosip yang anget-anget kuku. 

Tema obrolan di jondol pun tidak pernah dikomando, ia meluncur sendiri dan berbelok ke kanan dan ke kiri seenaknya. Tanpa ada yang mengetahui dari mana ujung pangkalnya? Tak jelaslah mana moderator, mana narasumber dan mana panelisnya. Barangkali di jondol inilah, tradisi lisan masyarakat Cirebon berkembang dan lestari.

Entah dimulai dari mana, malam itu pembicaraan mengerucut ke persitiwa misterius tahun 1980-an. Salah seorang pria berusia 67 tahun, Sukarya, menceritakan kengerian saat terjadi peristiwa itu, peristiwa Petrus, begitu dia menyebutnya. Saya yang dari tadi ngantuk-ngantuk tak tertarik mengikuti obrolan, tiba-tiba saja terhipnotis dengan daya ceritanya.

“Dulu, waktu tahun 80-an, semua orang yang bertato ditembak di tempat. Mayat-mayat mereka dimasukkan ke dalam karung dan dipertontonkan di depan umum,” katanya, khas orang bercerita.

Sukarya, pria yang sudah punya dua orang cucu itu bercerita kembali, seakan membuka luka lama masyarakat terhadap peristiwa yang membuat bulu kuduknya merinding itu. Dia menegaskan bahwa Petrus adalah nama seorang jenderal ABRI yang anak perempuannya diperkosa dan tewas di terminal di Jakarta. 

Anak perempuan Si Petrus itu, menurutnya, diperkosa oleh preman-preman terminal yang bertato. Sejak peristiwa tersebut, Petrus pun memerintahkan anak buahnya dari Sabang sampai Marauke untuk memberi pelajaran kepada para preman bertato.

“Pokoknya yang punya tato dia langsung ditembak. Tak pandang itu sebenarnya preman apa bukan? Kasian juga saat itu banyak anak-anak muda yang gaya-gayaan memakai tato, padahal dia bukan preman,” lanjutnya dengan bibir yang kian basah.

Terakhir saya baru tahu, ternyata yang dikatakan Sukarya ada benarnya. Meskipun tidak sepenuhnya. Setelah saya cari referensi dari berbagai buku, ternyata waktu itu Orde Baru sedang memasuki tahap akhir dari proses penggalian kubur untuk dirinya sendiri. Proses setelah terlewatinya tahun-tahun masa puncak kejayaan orde baru.

Setelah pada 1973 partai difusi, orde baru di masa 70-80 melenggang dengan lancarnya. Orde ini pada jaman itu dianggap sebagai orde yang menjanjikan karena PDB nya berkisar pada 7,7 persen. Masa depan yang gemilang jika saja pemerintah orde baru bukan rezim yang kejam, brutal, korup dan hanya dikuasai 1 orang.

Rezim yang digdaya itu pada tahun 1983-1985 harus menumpas gelombang pasang kejahatan yang terjadi di masa itu. Negara membunuh tanpa jalur pengadilan terhadap 5.000 tersangka kriminal di seluruh negeri. 

Pembunuhan bernama Petrus (penembakan misterius) ini dilaksanakan oleh polisi dan militer, yang kemudian membuang mayat-mayat di tempat-tempat umum sebagai peringatan. Dalam otobiografinya tahun 1989, Soeharto menegaskan bahwa pembunuhan itu memang merupakan "terapi kejut" yang disponsori negara.

“Saya yakin Sukarya tidak tahu itu,” batinku.

Segala reka daya negara saat itu sungguh luar biasa. Satu peristiwa besar di depan mata warga, hanya dilihat sebagai suatu masalah sepele. Satu praktik kediktatoran dilihat sebagai sebuah dendam satu orang jendral bernama Petrus. Jenderal yang tidak pernah tercatat dalam absensi dinas militer di negeri ini. Satu kesimpulan dari cerita di jondol: pembantaian yang rapi.

Sukarya kembali bercerita, saat itu, bisa dikatakan, Kapetakan adalah daerah yang paling banyak jatuh korban akibat peristiwa jenderal ngamuk tersebut. Bagaimana tidak, Kapetakan adalah daerah yang dicap merah, daerah asal preman yang menguasai pasar, terminal dan pusat keramaian di Cirebon dan sekitarnya. 

Jadi tidak salah kalau, saat peristiwa Petrus, Kapetakan menjadi daerah merah membara. Target operasi utama di Cirebon dan sekitarnya.

“Mereka yang punya tato harus tetap waspada. Mereka tidak pernah tidur di rumah, takut ditembak dari jauh oleh militer,” cerocosnya.

Para preman dan anak muda tanggung yang bertato harus bermain cerdik dengan para intel-intel Kodim dan Polsek. Sebab, saat itu banyak para intel militer yang menyamar untuk menguntit para pemilik tato. Tidak jarang dari para intel yang menyamar menjadi tukang krupuk, es cuwing, hingga tukang sayur. Gerak-gerik mereka halus dan tak terdeteksi. Tapi orang kampung mengenal setiap wajah baru yang keluar masuk daerahnya.

“Ada orang yang jualan krupuk cuma sehari dua hari, setelah itu dia tidak muncul lagi. Kami tahu itu intel. Tapi biarkan saja, kita asal tahu saja, tidak berani apa-apa,” kata yang lainnya. 

Kalau sudah mendengar ada peristiwa di daerah sebelah atau ada informasi bawah tanah yang cukup meyakinkan, para pemuda bertato di Kapetakan konon takut tidur di rumah. Mereka membawa sarung, bantal dan tidur di kuburan atau di pohon besar dekat sawah yang sekiranya aman dan nyaman. 

Rupanya rekaman mengenai persitiwa Petrus dalam ingatan masyarakat pun sudah semakin samar, menyebar dari mulut ke mulut dan membiaskan penyebab sebenarnya. Lah iya, masak sih, kejadian itu terjadi cuma karena di Jakarta ada anak perempuan seorang jenderal besar diperkosa dan dibunuh preman, akibatnya semua preman pun dibunuh karena balas dendam jenderal. 

Sedangkan menurut sumber-sumber yang bisa dipertanggungjawabkan mengatakan bahwa alasan mengenai operasi ini tidak ada kaitannya dengan alasan di atas. Sumber-sumber itu mengatakan bahwa alasan operasi tersebut yakni upaya pencegahan kriminalitas ala Orba. Soeharto mengakuinya sebagai shock therapy, terapi goncangan agar para kriminal saat itu jera.

Apapun itu, yang pasti pembantaian dalam peristiwa Petrus mewariskan ideologi kekerasan dan kesadisan pada masyarakat. Mereka semakin mafhum dengan cara kerja kekerasan untuk merebut dan mengontrol sebuah kekuasaan. 

Luka Petrus seolah memberikan pelajaran kepada masyarakat bahwa kekerasan adalah modal utama untuk mencapai kekuasaan. Persis sama dengan ajaran Mein Kampf.***
Petilasan Syekh Bentong dan Jaka Tawa. Dok: pribadi.
ALKISAH, ada seorang pangeran dari Negeri Syam yang memiliki sebuah kesusahan, rambutnya tak bisa dipotong. Rambutnya terus tumbuh dan tumbuh hingga sang pangeran telah dewasa. Hal itu tentu menggelisahkan. Suatu hari, dalam sebuah kepasrahan total kepada Sang Pencipta, dia mendengar sebuah suara yang merasuk ke kalbunya. Suara halus itu mengisyaratkan kepadanya ada seseorang di Tanah Jawa yang bisa memotong rambutnya yang panjang tersebut. Sebuah kabar yang menggembirakan.

Dia pun berangkat ke Jawa dengan membawa dua perahu besar. Perahu pertama membawa perbekalan seperti makanan dan minuman. Sementara perahu kedua membawa kitab suci Al-Quran dan kitab-kitab lainnya tentang agama Islam dari negerinya. Sebelum sampai ke Tanah Jawa, dia singgah di beberepa tempat diantaranya adalah daerah Cempa dan Wandan. Dari dua daerah tersebut dia membawa serta dua orang yang kelak menjadi orang kepercayaannya.
Sumber foto: kompas.com
PAK Handoyo selalu mencari kata-kata yang pas untuk melukiskan sesuatu yang tak terlukiskan. Dia mengejar kepastian dari gelombang-gelombang bunyi yang menggetarkan jiwanya. Puluhan tahun menjadi seniman membuat telinganya sangat akrab dengan tetabuhan gamelan. Alat musik yang mengeluarkan bunyi mistis tersebut dipercaya masyarakat diciptakan para wali. Wali membuat perangkat gamelan dengan perhitungan sempurna dan matang. 

Hasilnya, setiap bunyi yang keluar akan menghasilkan nada yang menghanyutkan. Konon katanya, nada-nada itu memanggil orang datang ke pagelaran semisal wayang dan mereka merelakan diri masuk Islam untuk mengenal Tuhan lebih dalam. 

Hingga sekarang, setiap Muludan tiba, gamelan di Cirebon yang disebut gong sekati ditabuh. Orang-orang berduyun-duyun datang. Bahkan orang-orang dari Trusmi rela berjalan kaki puluhan kilometer untuk mendengarkan alunan yang 'memabukkan' itu. 

Tuhan benar-benar merasuk dalam kalbu mereka lewat nada ritmis nan syahdu. Menimang jiwa lewat telinga mereka.

Entah kenapa, tiba-tiba terpikir bahwa Tuhan dalam agama-agama tradisional adalah Tuhan yang didengar. Tuhan masuk lewat telinga dan hadir dalam diri manusia lewat bunyi nan indah. Lalu masuk ke dalam hati. Seperti bunyi-bunyian, Tuhan selalu dirindukan. Dia hilang bahkan setelah diucapkan. Tuhan muncul dalam rapalan dan doa-doa. Dalam syair dan ayat-ayat pemujaan. 

Tuhan masuk lewat telinga dan perlu peresapan batin yang khusyuk untuk mempertahankannya lebih lama. Agar dapat berdiam di dalam diri sesaat saja. Tapi Tuhan tetap tak pernah berdiam. Dia selalu luput dari pelukan dan hamba pun perlu membaktikan diri lebih dalam lewat sebuah ritual pengbdian. Bahkan kadang ritual itu berupa penyiksaan badan.

Bunyi sepertinya telah menjadi instrument paling penting dalam agama tapi sedikit terlupakan dalam pembahasan. Bila diingat-ingat, bukankah wahyu turun dari langit lewat angin dan disampaikan dalam bunyi. Para sahabat mendengar, merasakan dan mencerap indahnya rupa Tuhan lewat ayat yang masuk ke dalam telinga. 


Umar yang keras hatinya akhirnya pun luluh saat mendengar bunyi ritmis dari Tuhan. Semua manusia yang hatinya peka pastinya tak kuasa mengingkari keritmisan bunyi-bunyian, apalagi itu adalah sebuah ayat dari Tuhan. Realitas yang terpahami oleh telinga langsung tersambung ke hati sementara yang masuk melalui mata terhubung ke akal pikiran.

Dengan teori sekadaranya ini, aku menerka belaka bahwa wajar saja Pak Handoyo selalu kesusahan, susah setengah mati mencari sebuah tali yang bisa mengikat keliaran makna-makna yang muncul dari bunyi. Dia mencari inspirasi dari konsep-konsep ketuhanan dalam teologi dan filsafat. 


Saat ngobrol denganku, Pak Han selalu mentok dengan kata "tidak begitu", "bukan seperti itu" terhadap konsep-konsep yang saya ketengahkan kepadanya. Konsep-konsep teologi yang lahir dari sebuah tulisan dan buku.

Pengalaman spiritualnya terlalu rumit untuk diiwakili kata. Pengalaman ketuhanan yang merasuki jiwanya itu tak sanggup disamakan dengan konsep Tuhan modern yang masuk lewat mata. Saya baru sadar, sesungguhnya Tuhannya Pak Handoyo adalah Dia yang masuk dan meresap lewat telinga. Spritualitasnya lahir setelah jiwanya bergetar dan bergerak mengikuti nada ritmis gamelan. 

"Nada gamelan adalah nada alam. Nada yang keluar untuk kita dengar sebagai wujud eksistensi Tuhan," katanya suatu hari.

Pak Handoyo adalah seorang perindu yang selalu sepi di setiap panggung dan pagelaran kolosalnya. Dia selalu mencari Tuhan di balik bunyi gamelan yang dia dengar dan rasakan tapi tak pernah bisa dia lihat. Tak bisa diraba bahkan dalam tingkat pengertian. Jadilah Tuhan baginya adalah sebagai rasa yang lunak. Yang melunakkan hatinya. Menaklukkan jiwanya. Menjadi hamba seutuhnya. 

Tuhannya tidak hadir lewat tulisan, buku, ajaran, atau kitab suci sekalipun. Tuhannya menjadi memiliki sifat yang tidak pasti, seperti pastinya Tuhan dalam teologi dalam sebuah tulisan. Dia tidak berbentuk dan tanpa sifat semua sifat yang pernah manusia saksikan. Sejatinya dialah Tuhan sebagaimana dirasakan hadir oleh manusia pada zaman lisan. Tuhan dari umat yang mendengar.***