Skip to main content

Berperang Melawan Kerajaan Rajagaluh dan Talaga (5)

Payung berukuran besar yang masih tersimpan rapi.
Dok. Pribadi.
SAAT terjadi peperangan antara Kerajaan Rajagaluh dan Kerajaan Cirebon, Syekh Magelung Sakti bersama Nyi Mas Gandasari dikisahkan ikut dalam peperangan. Peran keduanya mengalahkan Prabu Cakraningrat bahkan dikenal dalam berbagai cerita pertunjukkan.

Perjuangan Nyi Mas Gandasari yang dikenal masyarakat Karangkendal berkaitan dengan cerita rakyat yang berkembang di daerah Depok, Jamblang dan Gempol. Konon diceritakan bahwa Nyi Mas Gandasari terplanting hingga jatuh terjengkang (dlepok) saat tidak kuat bertarung dengan Prabu Cakraningrat. Daerah tempat jatuhnya Nyi Mas Gandasari tersebut sekarang disebut daerah Depok.
Nyi Mas Gandasari pun berjalan lunglai ke arah timur. Pada saat asa Nyi Mas Gandasari mulai mengendur, datanglah Mbah Kuwu Cirebon untuk menyemangati. Mbah Kuwu Cirebon pun menasihatinya dengan mengatakan bahwa untuk mengalahkan Prabu Cakraningrat, Nyi Mas Gandasari harus menjadi seorang perempuan. Lalu konon, dirubahlah jenis kelamin Nyi Mas Gandasari menjadi perempuan. 

Nasihat Mbah Kuwu Cirebon kepada Nyi Mas Gandasari ini dikenang sebagai nasihat seorang bapak kepada kacung (anak laki-laki). Daerah saat peristiwa tersebut berlangsung sekarang disebut daerah Pecung atau Pecung, singkatan dari bapa tua marai kacung (orang tua menasihati anak laki-laki).

Nyi Mas Gandasari pun kembali ke medan perang dengan semangat dan konon sambil membawa alat kelamin laki-lakinya. Alat kelamin itu dia simpan di dalam kempek.  Daerah itu pun sampai sekarang dikenal sebagai daerah Kempek di Kecamatan Gempol Kabupaten Cirebon. Daerah yang sekarang berdiri banyak pesantren.     

Sedangkan beberapa catatan lain menyebutkan bahwa saat pasukan Cirebon dan Demak menuju Keraton Rajagaluh, akan tetapi mereka tidak bisa menembus dan masuk ke keraton karena di sekelilingnya ada sungai yang sangat panas dan beracun. Pasukan pun tertahan tidak bisa masuk komplek keraton.

Melihat hal itu, Syekh Magelung melapor kejadian tersebut kepada Sunan Gunung Jati. Kemudian Sunan Gunung Jati meminta kepada Nyi Mas Gandasari untuk ikut bersama Syekh Magelung karena hanya Nyi Mas Gandasari yang bisa menembus pertahanan Rajagaluh.

Sesampainya di perbatasan keraton, keduanya menjumpai sungai yang sangat panas. Nyi Mas Gandasari pun buang ari seni di atas sungai tersebut. Sungai itupun kemudian berubah kembali menjadi sungai biasa. 

Keduanya pun masuk ke dalam Keraton Rajagaluh dan langsung dihadang oleh Arya Mangkubumi, Demang Raksapura dan Demang Jagabati. Nyi Mas Gandasari kemudian diserahkan kepada Prabu Cakraningrat.

Prabu Cakraningrat sangat tertarik dengan kecantikan Nyi Mas Gandasari dan berniat mempersuntingnya. Nyi Mas Gandasari pun mengatakan bersedia menjadi permaisuri dengan syarat agar dia ditunjukkan jimat pusaka Rajagaluh. Prabu Cakraningrat pun tanpa curiga menunjukkan jimat pusaka Rajagaluh yang berupa sebuah kandaga (guci) emas yang berisi ular emas yang berada di atas peraduannya.

Diam-diam, Nyi Mas Gandasari mengambil kandaga itu dan dibawanya ke luar keraton. Saat Prabu Cakraningrat mengejarnya, dia dihadang oleh Sykeh Magelung Sakti. Nyi Mas Gandasari yang membawa kandaga pun mengabarkan kepada seluruh pasukan Cirebon dan Demak untuk saatnya menyerang. Pertempuran pun terjadi dan akhirnya Rajagaluh pun bisa ditaklukkan pada tahun 1528 M.

Payung Penakluk Talaga

Di waktu yang berbeda, pada saat Cirebon menyusun serangan balasan ke Talaga, Syekh Magelung Sakti dipanggil menghadap Sunan Gunung Jati. Syekh Magelung diperintahkan untuk memimpin pasukan dan berperang melawan Talaga. Selanjutnya diangkatlah Syekh Magelung menjadi senopati dan diserahi sebuah payung besar.

Payung itu adalah payung buatan Ki Gede Mayung (Ki Ketandan), yang kebetulan juga berasal dari daerah Talaga. Payung dengan ukuran besar tersebut biasa digunakan untuk memayungi Sunan Gunung Jati tatkala pergi berdakwah. Saking besarnya, konon katanya hanya Ki Ketandan dan Syekh Megelung saja yang mampu mengangkatnya. 

Pada saat perang besar terjadi antara Cirebon dan Talaga, konon karena sengitnya pertempuran, tidak ada dari keduanya yang mundur. Hingga akhirnya Syekh Magelung mengangkat dan mengembangkan payungnya. Setelah dikembangkan, payung tersebut dikibaskan, sekejap dengan izin Allah terjadilah badai topan yang memporakporandakan pasukan talaga. Pasukan Talaga pun akhirnya dapat ditaklukkan dan pemimpinnya sendiri, Prabu Kontea sirna menghilang.

Seusai perang, Syekh Magelung membawa pulang payung besar tersebut dan hingga sekarang masih tersimpan di Depok Pegagan di dalam Keramat Syekh Magelung Sakti. *** (bersambung)