Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2017

Menghalau ‘Hoax’

BERITA bohong (hoax) menjadi masalah yang cukup pelik yang dihadapi masyarakat digital sekarang ini. Pada saat kita mulai merayakan kebebasan informasi yang semakin egaliter dan massif, ternyata terdapat residu yang begitu mengganggu. 
Cita informasi yang mudah, murah dan bermanfaat sirna begitu saja dengan semakin banyaknya berita yang tidak benar. Alih-alih mendapat informasi yang bermanfaat, masyarakat sekarang banyak dijejali berita palsu mengandung fitnah dan provokasi. 
Ada pernyataan yang cukup relevan bahwa anugerah yang besar selalu diiringi dengan tanggung jawab yang besar. Kemudahan berkomunikasi lewat jejaring sosial harusnya selalu dibarengi dengan kearifan menggunakannya. Kalau tidak, maka bencana informasi siap menerjang segalanya.
Pada 10 Januari 2017, dua desa di Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, terlibat konflik gara-gara hoax. Sekira 90 rumah di lokasi tersebut rusak, sementara para korban mengungsi dan mengalami trauma yang tidak ringan. Konflik berawal saat…

Pribumisasi Islam: Teroka Budaya Nusantara

PRIBUMISASI Islam bukan hanya ihwal Islam yang begitu akomodatif terhadap kearifan lokal belaka, tapi ia juga mengandaikan sebuah budaya yang benar-benar siap dan terbuka menerima nilai-nilai asing. Hipotesa ini berangkat dari asumsi bahwa setiap budaya harus lebih dulu memiliki kedudukan setara sebelum perpaduannya menghasilkan sebuah tegangan kreatif. Kedudukan setara ini memungkinkan kedua entitas saling melengkapi dan menyempurnakan. Jadi prinsip kesalingan (resiprokal) tak boleh dilepaskan sama sekali untuk bisa menjelaskan pribumisasi Islam di Nusantara secara lebih utuh.
Berangkat dari hipotesa tersebut, kajian mengenai betapa budaya Nusantara sangat mengakomodasi nilai-nilai asing menjadi penting dilakukan. Mengingat wacana pribumisasi Islam baru sebatas pada elaborasi Islam yang ‘lentur’ saat menerima nilai-nilai lokalitas. Kajian ini bisa kita awali dengan melacak beberapa catatan mengenai sejarah masa lampau, ingatan kolektif masyarakat, arkeologi maupun yang bidang lainnya …

Wajah Islam Cirebon dari Reinterpretasi Folklor

KABAR terputusnya rambut Syarif Syam, sang pengelana dari Suriah zaman Sunan Gunung Jati (sekira abad ke 15-16 M) begitu melegenda. Legenda rambut panjang seorang pemuda ini sering dimaknai sebagai simbol kesombongan dan putusnya rambut itu sebagai simbol dari runtuhnya segala ketakaburan manusia. Pemuda itu akhirnya diceritakan takluk oleh kiai yang bisa memotong rambutnya: Sunan Gunung Jati. Penaklukkan tersebut berlanjut pada pengakuan menjadi murid.
Kalau dicermati, kerangka legenda tersebut sangat dramatik karena menyandingkan ‘kekuatan baik’ dan ‘buruk’ dalam panggung. Pada saat yang sama, cerita ini juga bekerja sebagai legitimasi kekuatan dan kesaktian Sunan Gunung Jati saat menyebarkan agama Islam di Cirebon. Dalam dunia panggung, kebenaran datang dari kemenangan saat terjadi konflik antara ‘yang baik’ dan ‘yang buruk’ berlangsung sengit.
Cerita masa lalu yang diwartakan dengan gaya drama panggung di Cirebon terutama disebarluaskan lewat wayang cepak dan masres. Keduanya mengh…

Tak Pecah oleh Hantaman Zaman

Semar dengan tubuh subur itu tertawa menyambut tamu. Itulah bagian dari kerajinan gerabah dalam pameran Antara Sitiwinangun dan Pagerjurang Bayat di Bentara Budaya Jakarta, yang berlangsung 4-9 April ini. Pameran ini menampilkan gerabah dari Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, dan Desa Pagerjuang, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Dengan berbagai kreasi, perajin bertahan menyapa pasar tanpa meninggalkan warisan tradisi. Gerabah memang sempat terpuruk oleh modernitas.

Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Cirebon PRA Natadiningrat, yang bersama artis Lola Amaria membuka pameran ini, mengenang bagaimana di masa kecilnya ia menggunakan celengan dan peranti minum dari gerabah. "Sekarang orang menggunakan dispenser, atau bahan plastik," kata Arief.

Karena desakan ekonomi, perajin gerabah di Dusun Caplek dan Dusun Kebagusan, Sitiwinangun, sempat beralih menjadi pembuat kerajinan dari bahan ban bekas. "Dulu tahun 1970-an ada lebih dari…