Kulihat sudut matanya berair. Mukanya masam, matanya merah. Meski wajahnya terlihat tegar, perempuan yang duduk di sampingku itu tak bisa menyembunyikan luka. Asih, istriku tak kuat menahan air matanya. Jarang sekali saya melihatnya begitu muram. Dia tak pernah menampakkan wajah sedih. Kalaupun pernah tak pernah sedalam ini. Sesekali dia menyeka air matanya sambil mengelus rambut anakku, Anggit yang tertidur di pangkuannya.

Anggit sakit. Ada masalah di kandung kemihnya. Hal yang tak pernah kami bayang-bayangkan sebelumnya. Terpikir pun tidak. Mana ada tumor dalam tubuh anakku yang ceria itu. Kalau tidak karena darah yang keluar , aku tidak juga yakin bahwa tubuhnya bermasalah. Sore di hari Minggu itu daging tumbuh dalam kemih anakku menyembul keluar lewat saluran kencingnya. Dari luar terlihat seperti gumpalan darah berwarna merah kebiru-biruan. Istriku panik. Aku mencoba menenangkan walau jantungku sendiri berdecak kencang mengetahui pemandangan ganjil tersebut.

Besoknya, pagi-pagi sekali kami bawa anak kami ke dokter. Dari ahli bedah anak di rumah sakit kami diyakinkan bahwa itu bukan bekuan darah infeksi saluran kemih, tapi tumor. Diagnosa yang tak ingin kami dengar sedari awal kami temukan bercak merah pada pipis anakku, Desember tahun lalu. Hari itu di rumah sakit, tak bisa kulepaskan pandangan dari wajah istriku. Kulihat dia tetap tegar mengetahui diagnosa dokter.

Sekira jam sembilan malam, kami pun beranjak pulang ke Kapetakan. Ketenangan istriku selagi di rumah sakit dan diamnya dia selama di perjalanan berakhir setelah kami melewati pintu rumah. Keheningan tak bertahan lama. Setelah meletakkan Anggit yang tertidur pulas, tangisnya pecah. Air matanya mengalir deras disusul dengan isak tangis.

Aku tinggalkan istriku bersama ibuku. Aku bergegas mencari sekadar untuk ganjal perut kami yang tidak terurus seharian itu. Sepulangku dari warung, istriku terlihat sedang menangis hebat di punggung ibu mertuanya. Setelah ibuku pulang ke Kertasura, dia lalu menangis tak kalah hebat di pundakku. Ah, aku tidak kuat melihat anakku sakit, sekaligus istriku menangis sedemikian hebat. Bisa apa aku?

Akhirnya hanya diam yang tersisa dalam tangis. Sesekali saya menenangkannya dengan kata-kata yang menguatkan. Tangisnya tak kunjung mereda. Situasi ini membawaku masuk ke dalam ruang yang begitu aneh. Tempat beradaku tiba-tiba saja begitu ringan. Rasa sedih, takut, lemah dan kuat bercampur aduk. Dalam suasana penuh kepedihan dan luka, saya merasakan sesuatu yang sama sekali baru: kasih yang begitu kuat.

Entah kenapa, Anggit seketika menjadi sesuatu yang mengambil posisi khusus dalam kedirianku. Dia menghempaskan segala egoisme. Dan di sanalah sisa-sisa kekuatan itu tumbuh subur di tengah ladang perih. Tanpa itu, dalam situasi ini mungkin aku sudah lunglai dan menyerah.

“Saya tidak boleh lemah. Saya harus kuat. Kita harus kuat, Yang,” kata istriku di sela tangisnya.

Saya membayangkan siapa juga yang tidak lemas saat pada banyak malam-malamnya disuguhkan horor yang begitu mencekam. Horor itu bukan karena hantu atau sejenis makhluk halus, melainkan sejenis rasa takut yang amat besar akan kehilangan sesuatu yang amat dicintai. Tentu bagi banyak orang tua, anak pipis berdarah adalah peristiwa yang memacu jantung. Rasa takut sekaligus kasihan silih berganti.

Jujur saja, ketakutan terbesarku adalah ketidaktahuan. Doa-doa dan pengharapan menjadi teman yang selalu menemani malam-malam horor itu, di mana ketidaktahuan menjadi raja. Malam-malam antara Desember tahun lalu hingga sekarang. Tidak semua malam, tapi saat terjadi sontak pikiran jadi meracau kacau.

Akhir-akhir ini, saya trauma setiap dipanggil oleh istri. Seringkali di malam hari saya terbangun dari tidur dan langsung menghampiri, padahal istriku lagi tidur. Istriku juga trauma. Terutama saat dia mengganti celananya Anggit. Dia cerita selalu merasa ‘ngeri’ setiap melihat darah keluar dari saluran pipis anakku. Sialnya, malam-malam itu masih akan datang lagi.

Sekarang saya tahu, diagnosa tumor itu memang mengguncang tapi sekaligus juga mencerahkan. Paling tidak ia mengikis ketidaktahuanku atas apa yang terjadi sedari Desember. Semua diagnosa itu menjelaskan semuanya. Setiap keanehan-keanehan terjawab sudah. Aneh, diam-diam aku menyukuri diagnosa sialan itu untuk segera menyiapkan langkah-langkah agar kepedihan itu tak kembali terulang di kemudian.

***

Sore itu di lab kesehatan, sambil menunggu CT Scan, saya menikmati sekali memandangi wajah Anggit yang mulai lemah karena pengaruh obat bius, aku kembali merasa berada pada situasi yang tak terpahami. Saya seperti berada pada ambang batas rasa. Berada di tepian (trans) antara ketakutan-kemarahan-kelemahan dengan cinta-kasih-kekuatan. Dengan muka sayu dan mata mengantuk, Anggit masih bisa tersenyum dan berusaha meledek saya, juga menghibur Miminya. Dia berusaha keras melawan bius hingga perawat harus menambahkan dosisnya sekali lagi. Ah, Anggit, kamu begitu menjengkelkan. Dalam situasi sulit pun dia masih begitu ‘nggelo’ dan ‘njelei’. Andai aku masih seumuranmu, Nak, dalam situasi yang sekarang ini aku tak akan pernah takut dan menyerah, secuil pun. Hari ini aku ingin selamanya menjadi kamu. []

Selasa sore (27 Februari 2018) di Lab Medis Mitra, Kota Cirebon.