Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2018

Menjadi Kamu, Anggit

Kulihat sudut matanya berair. Mukanya masam, matanya merah. Meski wajahnya terlihat tegar, perempuan yang duduk di sampingku itu tak bisa menyembunyikan luka. Asih, istriku tak kuat menahan air matanya. Jarang sekali saya melihatnya begitu muram. Dia tak pernah menampakkan wajah sedih. Kalaupun pernah tak pernah sedalam ini. Sesekali dia menyeka air matanya sambil mengelus rambut anakku, Anggit yang tertidur di pangkuannya.
Anggit sakit. Ada masalah di kandung kemihnya. Hal yang tak pernah kami bayang-bayangkan sebelumnya. Terpikir pun tidak. Mana ada tumor dalam tubuh anakku yang ceria itu. Kalau tidak karena darah yang keluar , aku tidak juga yakin bahwa tubuhnya bermasalah. Sore di hari Minggu itu daging tumbuh dalam kemih anakku menyembul keluar lewat saluran kencingnya. Dari luar terlihat seperti gumpalan darah berwarna merah kebiru-biruan. Istriku panik. Aku mencoba menenangkan walau jantungku sendiri berdecak kencang mengetahui pemandangan ganjil tersebut.
Besoknya, pagi-pagi s…