"Rasa sakit akan mendewasakanmu," kata Ki Mantri kepada Pak Kuwu yang mengeluh istrinya terjangkiti penyakit aneh.

Penyakit itu tak mudah dikenali. Karena memang tak ada namanya atau belum ada yang mampu memberikannya nama. Tiap sore hari menjelang Maghrib, istrinya kejang-kejang. Disusul kemudian dia merintih kesakitan seperti orang terbakar. Sakit akan mereda hingga malam. Nanti menjelang fajar sakit itu datang kembali. Sudah setahun kiranya istri Pak Kuwu menderita keganjilan tersebut.

Nasihat Ki Mantri tak memuaskan hatinya. Sama saja seperti penjelasan medis berpuluh klinik, puskesmas, rumah sakit dan tabib-tabib. Hanya geleng-geleng kepala yang selama ini Kuwu dapat. Bukan penjelasan logis. Semua nasihat dari banyak teman dan saudaranya juga tak membuat hatinya lapang. Toh istrinya tetap sakit setiap pergantian siang dan malam.

"Sehari dua hari masih kuat. Tapi ini sudah berbilang hari, sudah banyak minggu dan tak terhitung bulan. Saya tidak kuat menyaksikan istri seperti orang sekarat. Lebih baik saya saja yang sakit," keluhnya di depan Ki Mantri.

"Bukankah rasa sakit juga yang membuat dunia ini diselimuti dendam kesumat, Ki? Jadi tak benar kalau sakit itu mendewasakan, Ki. Pekara salah," sanggah Kuwu.

Rasa sakit yang tak sembuh bahkan diwariskan berpuluh generasi setelahnya. Rasa sakit itu yang menumpulkan kesadaran dan membangkitkan amarah sedemikian cepat. Rasa sakit pula yang membuat banyak bangsa di dunia terpuruk dan tak mampu bangkit. Pada akhirnya orang-orang si negara itu ketakutan, bodoh dan termiskinkan. Mulut pak Kuwu tak berhenti memberondong dengan cerita-cerita perang dan pembunuhan. Semua kekejian di dunia, katanya, berawal dari rasa sakit, kemudian berlanjut dengan pembalasan. Pembalasan menimbulkan rasa sakit baru dan pembalasan baru. Begitu seterusnya bertahun-tahun lamanya. Pak Kuwu yang doyan membaca koran dan tiap hari melototi berita di televisi tentu mengetahui kisah-kisah perang karena dan yang menyebabkan rasa sakit itu.

"Tapi kau punya iman, Pak Kuwu. Bukankah kau orang beragama?"

"Setiap musibah dan cobaan adalah rasa sakit. Dan tak ada rasa sakit yang percuma. Itu tandanya Allah masih sayang sama pak Kuwu dan keluarga. Percayalah ada hikmahnya," kata Ki Mantri memotong cerita pak Kuwu yang menderas bandang.

Tapi jawaban itu, lagi-lagi tak cukup memuaskan. Pak Kuwu tak juga menerima penjelasan Ki Mantri. Menurutnya, Ki Mantri terlalu menggampangkan masalah. Kuwu lalu mendesaknya dengan berbagai pertanyaan tajam. Seperti pertanyaan iblis saat dia diperintah Allah bersujud kepada Adam. Adakah protes itu masuk akal bagi seorang makhluk terhadap Khalik?

Tapi keterjelasan dan rasionalitas bagi iblis adalah hal yang menurutnya pantas diterima. Sekalipun menyangkut hal yang ilahiah. Andaipun di hadapan Allah yang melebihi rasionalitas itu sendiri.

"Kenapa Kau suruh aku sujud di depan makhluk hina dina. Manusia yang terbuat dari tanah?"

Sebuah pertanyaan yang logis, cerdas dan bringas. Tapi tidak berada pada tempat yang benar. Protes ini mungkin benar tapi tidak tepat jika dialamatkan kepada Sang Pencipta. Itu tadi, Dia sejatinya di luar ‘kuasa-mengetahui’ iblis. pertanyaan dan protesnya tak memadai di hadapan-Nya.

Pak Kuwu terus bertanya, menyanggah dan kemudian bertanya kembali. Seperti orang yang kehausan tapi kemudian minum air laut yang asin.

"Pak Kuwu lupa, manusia, atau bahkan makhluk yang lebih canggih seperti iblis sekalipun masih suka terjebak dalam 'kemengertian'. Sementara Allah bekerja melebihi itu. Dia di luar dimensi 'kemengertian'," Ki Mantri berusaha menjelaskan dengan mengikuti logika cerita pak Kuwu.

Kepasrahan, oleh karenanya menjadi jalan terbaik bagi makhluk untuk bisa mengerti jalan-jalan yang sedang direnda Khalik. Kepasrahan bukanlah tak berbuat apa-apa.

"Tapi melakukan segala upaya sambil menyadari bahwa yang dilakukannya adalah bagian kecil saja dari keagungan Tuhan dan keluasan rahasianya. Maka, di dunia manusia dikenal istilah ‘keajaiban’, ada juga ‘mukjizat’, ‘karomah’, ‘berkah’ dan sebagainya. Yang lain menyebut ada ‘mimpi’, ‘cita-cita’ dan ‘harapan’. Semua yang saya sebutkan tadi itu tidak masuk akal tapi manusia hidup dengan itu. Tanpa iman yang teguh, semua itu tak akan pernah terwujud," pungkasnya.

Sore itu, pak Kuwu sepertinya sedikit memahami. Lamat-lamat otaknya mengerti ucapan Ki Mantri yang dikenalnya sebagai kiai kampung itu. Dia pun beranjak pamit dan menyampaikan terima kasih.

"Baik. Akan saya coba," katanya begitu lirih, persis berbisik.

"Tapi besok saya ke sini lagi, Ki," katanya tegas.

"Mangga," timpal Ki Mantri.



bersambung...