Siapa ...
Siapa yang dapat menolong?
Saat kau tak bisa minta pertolongan
Saat pertolongan menjadi tidak mungkin
Saat manusia-manusia hanya bisa mendengar
Saat teman dan sahabatmu tak kuasa
Saat saudara dan sekutumu tak juga datang

Kepada siapa kau mengadu?
Saat cerita hidupmu terlalu kelam
Penderitaanmu tak mungkin dimengerti
Bahasa ucapmu terlalu lirih tak terdengar
Atau cintamu pada kefanaan terlalu dalam

Ketika semua; saya, kamu dan kalian sama saja
menderita dan sakit tak berdaya

Hanya padamu
Hanya namamu
Duh, Gusti Pengeran

Kau yang tak pernah lelah mendengar keluh kesah
Kau yang tak pernah menolak permohonan
Kau yang tak keberatan dimintai tolong
Kau tempat segala harapan tertambat

Duhai, Gusti
Aku hambamu yang lemah
Sendiri dalam ladang derita
Temanku dekat tapi tak ada
Ayah ibuku menemani tapi tak pernah berarti
Tangan-tangan ahli di samping badan tapi semuanya tak menyurutkan duka

Dengan sisa-sisa pengharapan, lara ini kucoba buang
Sendirian
DenganMu saja

Hari ini mimi mu nekat minta balik ke rumah kita. Sebenarnya nenekmu melarangnya. Tapi pagi-pagi benar, mimi mu merajuk. Akhirnya saya turuti.

Sesampainya di rumah kita, mimi mu menangis luar biasa melihatmu kembali dari masa lalu dan hadir dalam benda-benda kesayanganmu: bajumu, jaketmu, sepatumu, mainanmu, dan setiap sudut rumah di mana kau bermain dengan riang.
Aku ingatkan ibumu untuk jangan telalu dalam. Tapi dia menjawab dengan mantap bahwa tangisnya itu bukan ratap, hanya kangen. Begitu katanya.
Mendengar jawaban itu, saya pun tak kuat menahan tangis. Ada campuran aneh antara sedih sekaligus bangga punya istri hebat dan anak cerdas.
Saya lihat, sambil menangis, semua barang-barangmu dia bereskan. Dia masukkan dalam tas besar. Rencananya barang-barang itu mau disimpan di rumah nenekmu. Biar kami tak lagi terus bersedih saat melihat semua tentangmu.
Kami memang sudah tak butuh fetish semacam benda itu karena kamu sudah ada di dalam dada kami. Saat kangen, kami hanya akan panggil namamu dan kau akan hadir bersama kami. Tertawa, menangis, dan melet bersama.
Meskipun kami tahu seperti yang ada di foto, kau suka usil dengan tidak mau begitu saja menuruti setiap perintah. Saya jadi ingat mimi mu, kamu pemberontak. Seperti mama mu kamu usil dan gelo. Kamu benar-benar sudah menjadi kami.
Kita sudah menjadi satu. Jadi ini semua hanya masalah waktu, nak. Kau telah lepas dari jeratnya sementara kami masih terkungkung di dalamnya. Kamu telah bersama penciptaMu dan kami belum. Hanya masalah waktu.
Saya senang telah dipilih menjadi Mama mu, nak. Saya tahu mimi mu juga amat senang melahirkan, merawat, dan membesarkanmu.
Ingat nak, setiap namamu kami panggil, bilanglah selalu: tak usah menangis lagi.